Teori Penilaian Sosial

Teori Penilaian Sosial

Teori ini (social judgement theory) dikemukakan oleh Sherif dan Hovland pada 1961. Teori ini mempelajari tentang proses psikologis yang mendasari pernyataan sikap dan perubahan sikap melalui komunikasi. Asumsi dasarnya bahwa dalam menilai manusia membuat deskripsi dan kategorisasi khusus. Dalam kategorisasi manusia melakukan perbandingan-perbandingan diantara berbagai alternatif yang disusun oleh individu untuk menilai stimulus-stimulus yang datang dari luar. Teori ini mengemukakan bahwa seseorang mengetahui apa sikapnya dan mampu menentukan perubahan sikap apa yang akan diterimanya serta perubahan apa yang akan ditolaknya. Contoh : kasus yang menimpa Angelina Sondakh ketika ditetapkan menjadi tersangka dalam sebuah kasus korupsi pada tahun 2012 lalu, banyak hujatan dan makian bertebaran di media sosial lainnya, dengan gampang para pengguna internet menghakimi Angelina Sondakh berhubungan dengan kasusnya. Banyak individu mengeluarkan hujatan kepada Angelina Sondakh dengan menuduhnya pelaku korupsi, pembohong, dan murtad.

  

Teori Efek Media Massa

Teori Efek Media massa adalah suatu perubahan yang terjadi kepada diri seseorang baik individu maupun kelompok yang mengakibatkan dirinya terpengaruhi oleh media massa sehingga ia mengetahui apa yang awalnya tidak diketahui karena media massa yang semakin canggih. Contoh,  televisi yang hampir keseluruhan semua masyarakat mempunyainya, dengan adanya mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan. Sehingga banyak yang cenderung agresif dan suka meniru baik itu dari segi penampilan, gaya, dll.

2.8    Teori Inokulasi.

Lumsdaine dan Janis mengatakan bahwa penerima pesan dua sisi menjadi “kebal” atau berinokulasi. Ini adalah sebuah analogi medis yang kemudian digambarkan oleh William McGuire dan Demetrios Papageorgis yang menyebutkan bahwa sebagian besar orang memiliki banyak keyakinan yang tidak tertantang dan keyakinan ini sering dapat dengan mudah goyah ketika diserang karena orang tersebut tidak terbiasa mempertahankannya. Contoh sebelumnya bu Rita tinggal di desa. Suatu ketika bu Rita pindah ke kota, ia dihadapkan pada lingkungan yang menjunjung tinggi nilai penampilan. Bu Rita yang dahulu hidup sederhana merasa “terbelakang” dari lingkungan tersebut karena gajinya tidak mencukupi untuk berdampingan dengan lingkungannya sehingga ia pun berusaha meminjam uang dan akhirnya terlilit hutang.

2.9    Teori Fungsional.

Teori Fungsional adalah perubahan sikap seseorang tergantung pada kebutuhannya. Contoh individu yang menginginkan dirinya dianggap berwawasan internasional akan bersikap positif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan negara lain. Sikap ini memberikan fungsi bagi individu dalam mengekspresikan nilai yang dianut.

2.10    Teori Keseimbangan.

Teori keseimbangan adalah dimana seseorang tertarik pada yang lain didasarkan atas kesamaan sikap dalam menanggapi suatu tujuan. Contohnya, dalam menyelesaikan suatu masalah, Andi mengemukakan pendapatnya. Pendapat Andi ternyata memiliki kesamaan dengan pendapat Riska. Sehingga Riska pun akhirnya mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Andi.

2.11    Teori Distorsi Kognitif.

Teori Distorsi adalah berpikiran secara berlebihan dan tidak rasional diidentifikasi dalam terapi kognitif dan variannya, yang dalam teori yang mengekalkan gangguan psikologis tertentu. Teori distorsi kognitif pertama kali diajukan oleh David D. Burns, MD. Contoh: Ketika seseorang yang dikagumi membuat kesalahan kecil, kekaguman berubah menjadi rasa muak.

2.12    Teori The Bullet Theory atau Teori Peluru.

Teori peluru merupakan konsepsi pertama yang muncul, berkenaan dengan efek komunikasi persuasif. Disebut pula dengan hypodermic-needle theory atau teori jarum hipodermik. Kadang-kadang disebut pula transmission belt theory atau teori lajur transmisi. Dalam teori ini dibahas mengenai pengaruh pesan yang disalurkan melalui media massa dan mengatakan bahwa media massa itu ampuh untuk mengubah perilaku massa. Contohnya: seseorang yang memprovokasi temannya ke media sosial sehingga orang-orang akan merasa bahwa pesan yang disampaikan itu benar dan membenci orang yang terprovokasi

Sumber: https://carbomark.org/