Telur Ayam Kampung

Telur Ayam Kampung

            Ayam kampung berperanan penting sebagai sumber produksi daging dan telur untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, disamping sebagai sumber pendapatan tambahan. Akan tetapi, dalam memproduksi daging dan telur, produktivitas ayam kampung lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas ayam ras pedaging maupun petelur. Dengan pemeliharaan secara tradisional dengan kondisi pedesaan, produksi telur ayam kampung rata-rata 10-11 butir per satu periode bertelur. Sedangkan bobot telur ayam kampung berkisar antara 32,75 – 36,96 gram. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam kampung mengemukakan bahwa produksi telur ayam kampung 30-80 butir per tahun dengan bobot telur rata-rata 37,5 gram; sedangkan ayam ras yang dipelihara secara intensif dapat berproduksi 200-250 butir per tahun dengan bobot telur rata-rata 55,6 gram. Secara lebih rinci Wihandoyo et al (2005)

Produksi telur ayam kampung yang dipelihara secara intensif dapat mencapai 151 butir/ekor/tahun (Creswell dan Gunawan, 2002). Sedangkan Teguh et al.

(2007) melaporkan bahwa ayam kampung dengan pemeliharaan secara tradisional hanya menghasilkan produksi telur 58 butir/ekor/ tahun. Lebih lanjut Teguh et al (2007) dikemukakan bahwa ayam kampung yang mengasuh anaknya sampai lepas sapih, produksi telur hanya mencapai 52 butir/ekor/ tahun, tapi bila dipisahkan anaknya sejak menetas dapat mencapai 115 butir/ekor/tahun. Rata-rata produksi telur dan bobot telur ayam kampung yang dipelihara secara tradisional dan intensif. Bobot telur dipengaruhi oleh ukuran tubuh induk ayam. Induk ayam yang besar menghasilkan telur yang besar, Goodwin (2008).

           Bentuk telur secara umum di pengaruhi oleh faktor genetis dimana setiap induk bertelur berurutan dengan bentuk yang sama, yaitu bulat, panjang,  lonjong dan sebagainya. Besar dan bobot telur yang berasal dari satu ayam bervariasi (Suprijatna, 2005). Bentuk telur dinyatakan dengan indeks telur, yaitu perbandingan antara diameter lebar dan panjang yang dinyatakan dalam persen. Nilai indeks telur beragam antara 65-82% dan idealnya adalah antara 70-75%. Penyebab terjadinya variasi indeks telur adalah belum diterangkan secara jelas, namun diduga sebagai akibat dari perputaran telur didalam alat reproduksi atau ditentukan oleh diameter lumen alat reproduksi (Yuwanta, 2006). Indeks bentuk telur dapat dihitung dengan melakukan perbandingan lebar telur terhadap panjang telur, kemudian dikali 100 % (Suprijatna, 2005).

baca juga :