Sejarah Pegadaian Syariah

 Sejarah Pegadaian Syariah

Sejarah pegadaian syariah di Indonesia tidak dapat dicerah pisahkan dari kemauan warga masyarakat Islam untuk melaksanakan transakasi akad gadai berdasarkan prinsip syariah dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan praktik ekonomi dan lembaga keuangan ayng sesuai dengan nilai dan prinsip hukum Islam. Selain itu, praktik bisnis ekonomi syariah dan mempunyai peluang yang cerah untuk dikembangkan.

Berdasarkan hal ini, pihak pemerintah bersama DPR memutuskan rancangan peraturan perundang-undang yang kemudian dilaksanaka pada bulan Mei menjadi UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. UU tersebut memberikan pelung untuk ditetapkan praktik perekonomian sesuai syariah dibawah perlindungan hukum positif. Dibawah UU tersebut maka terwujudlah Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

Usaha LKS dimulai oleh PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), dengan perum pengadaian. Bentuk kerjasama kedua pihak, yaitu perum pegadaian bertindak sebagai kontributor sistem gadai dan BMI sebagai kontributor muatan sistem syariah dan dananya. Aliansi kedua pihak melahirkan Unit Layanan Gadai Syariah (cabang pegadaian syariah). Selain aliansi kedua lembaga tersebut, gadai syariah juga dilakukan oleh bank-bank umum lainnya yang membentuk unit usaha syariah (UUS).[1]

Pegadaian syariah merupakan sebuah lembaga yang relatif baru di Indonesia. Konsep operasi pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modren yaitu asas rasionalitas, efesiensi, dan efektivitas yang dilaksanakan dengan nilai Islam. Fungsi operasional pegadaian syariah dijalankan oleh kantor-kantor cabang Pegadaian Syariah/Unit  Layanan Gadai Syariah (ULGS) sebagai suatu unit organisasi dibawah binaan Divisi Usaha PT. Pegadaian. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang struktual terpisah pengolaaannya dari usaha gadai konvensional. Pegadaian syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) cabag Dewi Sartika di bulan Januari tahun 2003. Menyusul kemudian pendiri ULGS di Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta ditahun sama hingga September 2003. Masih ditahun yang sama pula, 4 kantor cabang pegadaian di Aceh di konversi menjadi Pegadaian Syarih.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/