Qahtani

Qahtani

Menurut dugaan mereka berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahtan bin Hud, sering pula dikenal dengan Arab Qahtan. Mereka kebanyakan tinggal di Yaman dan kemudian menyebar ke daerah lainnya. Peradaban mereka diketahui cukup tinggi. Dibuktikan dengan penemuan-penemuan arkeologis yang mengungkapkan cara kehidupan mereka. Keturunan dari Qahtani ini ada yang menyebar sampai ke Yatsrib, nama kuno untuk Madinah, yaitu Bani ‘Aus dan Bani Khazraj yang dikenal sebagai Kaum Anshar.

  1. Adnani

Mereka diduga berasal dari keturunan Ismail as melalui anaknya Adnan. Ada juga yang menyebut Arab Adnan. Quraisy termasuk cabang dari ini.

Quraisy menjadi suku terkemuka di Mekkah sejak sebelum kelahiran Muhammad SAW dan pada dasarnya menguasai kota. Sebelum kelahiran Muhammad SAW, suku ini terbagi menjadi beberapa klan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda atas kota Mekkah dan Ka’bah. Terjadi rivalitas antar klan, dan makin meruncing selama nabi Muhammad SAW hidup. Beberapa pemimpin klan tidak menyukai klaim nabi Muhammad saw akan kenabian dan mencoba menghentikannya dengan menekan pemimpin Bani Hasyim saat itu, Abu Thalib. Banyak pula dari klan tersebut yang menghukum pengikut nabi Muhammad SAW, seperti melakukan boikot. Hal inilah yang menyebabkan keluarnya perintah hijrah ke Ethiopia, dan kemudian ke Madinah.

Setelah Penaklukan Kota Makkah pada tahun 630 M, nabi Muhammad SAW memaafkan orang Quraisy yang sebelumnya menekan dan memusuhinya, kedamaian terjadi. Setelah meninggalnya nabi Muhammad SAW, rivalitas klan meningkat, terutama siapa yang berhak menjadi Khalifah, hal yang menyebabkan terjadinya pemisahan Sunni dan Syi’ah.

Banyak cara yang dilakukan para pemimpin suku Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad SAW, yaitu:

  • Bujuk rayu.
  • Ancaman pembunuhan.
  • Fitnah.
  • Penyiksaan terhadap penduduk yang beragama Islam.

Melihat kekejaman yang dilakukan oleh suku Quraisy, Nabi Muhammad SAW mengungsikan para sahabatnya keluar dari Mekkah. Mula-mula mereka pergi ke Habsyah (Etiopia). Habsyah (Etiopia)  memiliki seorang raja yang toleransi beragamanya tinggi, walaupun Raja Majasi ini memeluk agama Kristen, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya mendapat perlakuan baik dari Raja Majasi.

Setelah mereka mengungsi ke Habsyah (Etiopia), mereka pindah ke Yatsrib (Madinah). Atas permintaan sahabatnya, Nabi Muhammad SAW kemudian menyusul hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Di Madinah, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya diterima dengan baik, karena kedatangan mereka telah dinanti-nantikan.

Madinah merupakan titik tolak perkembangan Islam, agama Islam kemudian menyebar hingga ke seluruh dunia. Di kota itulah pertama kalinya terbentuk masyarakat Islam sebagai kekuatan politik, Nabi Muhammad SAW tidak hanya berkedudukan sebagai pemimpin agama tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat. Nama kota Yatsrib kemudian diubah menjadi Madinatul Munnawwarah (Kota yang bercahaya).

sumber :