Perkembangan Historiografi di Indonesia

Perkembangan Historiografi di Indonesia

Perkembangan Historiografi di Indonesia

Perkembangan Historiografi di Indonesia
Perkembangan Historiografi di Indonesia

Historiografi Tradisional

 Historiografi radisional adalah penulisan sejarah yang apda umumnya lebih mengedepankan unsur keturunan (genealogi), tetapi mempunyai kelemahan dalam struktur kronologi. Historiografi tradisional umumnya berisi tentang kerajaan, kehidupan raja, dan sifat-sifat yang melebih-lebihkan raja dan apra pengikutnya. Penulisan sejarah tradisional berkembang pada masa hindu-Budha dan Islam.

Ciri-ciri historiografi tradisional

  • Merupakan refleksi / gambarna cultural
  • Mengandung unsur mitos
  • Alam dipercaya mempunyai kekuatan dalam jalannya sejarah

 

Contoh historiografi tradisional

Contoh historiografi tradisional, anatra lain kitab Arjuna Wiwaha, kakawin baratayudha, dan kidng rangga lawe (masa hindu-Budha); Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Hikayat Raja-Raja Pasa, dan Hikayat Aceh (masa Islam)

Pada masa penjajahan Barta, sejarah bpupki sumber-sumber local yang berupa babad atau hikayat tidak dijadikan sumber dalam penulisan sejarah pada masa itu.

Veth berpendapat bahwa sumber-sumber lokal penuh dengan hal-hal yang bertentangan dan tidak masuk akal. Apabila hal-hal yang tidak masuk akal atau meragukan tersebut dibuang dari sumber-sumber tersebut maka tidak ada lagi bahan yang dapat dijadikan sumber untuk penulisan sejarah.

Oleh karena itu, pada waktu Veth menulis bukunya tentang sejarah Indonesia, sumber-sumber local mengenai abad ke – 17 dan 18 tidak digunakan.

Para sejarawan Belanda pada masa itu menganggap bahwa bahasa pada sumber-sumber lokal tidak bisa atau susah dimengerti karena tetlalu berbelit-belit.

Oleh karena itu, para sejarawan Belanda hanya mengandalkan sumber-sumber atau arsip Belanda yang dianggap cukup banyak sehingga tidak memerlukan sumber local.

Historiografi Kolonial

Karena selama  satu abad lebih bangsa Eropa memegang hegemoni dunia maka dunia barat memandang bahwa Eropa di yakini sebagai pusat dari sejarah dunia dan pusat dari segala-galanya. Keyakinan tersebut salah satunya didukung oleh Leopord von Ranke.

Dia berpendapat bahwa sejarah dunia adalah sejarah dari Barat semata. Sejarah bangsa-bangsa lainnya tidak dianggap sebagais ejarah dunia.

Sejarah bangsa-bangsa lainnya tersebut baru dibahas ataud icantumkan jika ada sangkut pautnya dengan bangsa  Eropa. Pandangan tersebut kemudian melahirkan  karya-karya sejarah yang bersifat colonial atau historiografi colonial.

 Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah Indonesia yang ditulis untuk kepentingan dan dengan cara pandang colonial Belanda atau bersifat Eropasentris atau Nearlandosentris.

Peristiwa yang terjadi di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda ditulis berdasarkan kepentingan Belanda. Historiografi colonial berisi kisah orang-orang Belanda di tanah jajahan (Indonesia) dan   orang-orang pribumi yang memiliki peran dan mendukung kepentingan pemerintah colonial.

Orang-Orang pribumi yang tidak memiliki peran dan menentang kepentingan pemerintah colonial tidak masuk dalam sejarah kolonial.

Ciri-ciri historiografi kolonial

  • Bersifat diskriminatif;
  • Menggunakan sumber-sumber Belanda;
  • Berisi tenang sejarah orang besar dan sejarah politik;
  • Merupakan sejarah orang Belanda di tanah jajahan (Indonesia)
  • Menganggap bahwa Indonesia belum memiliki sejarah sebelum kedatangan orang-orang Belanda

 

Penulisan historiografi kolonial dipelopori oleh penulis-penulis Belanda sebagai berikut :

  • F. Valentijn (1666-1727) melalui karyanya yang  berjudul Oud en Nieuw oost Indien
  • Veth melalui karyanya yang berjudul Java, Geografisch, Etnologisch, Historisch
  • Eykman dan Stapel melalui karyanya yang berjudul Beknopt Leerboek der Geschiedenis van Nederlandsch-Indie.
  • Van dam melalui karyanya yang berjudul Beschrijvinge der O.I. Compagnie.

 

Historiografi Nasional

 Historiografi Nasional adalah penulisan sejarah Indonesia yang dilakukan menurut kacamatan bangsa Indonesia dengan tetap berpegang pada aturan metode sejarah. Tokoh yang mempelajari penulisan sejarah nasional Indonesia adlaah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Beliau menulis sejarah Indonesia  dengan menggunakan konse pendekatan multidimensional. Artinya, suau peristiwa sejarah ditulis dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi, ilmu politik dan ilmu ekonomi.

Ciri-ciri hisoriografi Indonesia

  • Sumber yang digunakan tidak hanya babad, tetapi juga hikayat, berita Cina, dan sumber arkeologis
  • Penulis adalah orang-orang akademisi yang kritis dalam bidang bahasa, kesusastraan, dan kepurbakalaan.
  • Tidak hanya mengangkat sejarah orang-orang besar dan Negara saja, tetapi lebih pada kemanusiaannya, yaitu kebudayaan.
  • Sumber tidak lagi hanya sumber arsip, tetapi juga sumber local.
  • Sudah mendapat komparasi / perbandingan sumber colonial dan local