Penjelasan Mengenai Taqlid

Penjelasan Mengenai Taqlid

Penjelasan Mengenai Taqlid

 

Penjelasan Mengenai Taqlid
Penjelasan Mengenai Taqlid

Pengertian Taqlid

Secara bahasa :

ﺓﺩﻼﻘﻟﺎﻛ ﻪﺑ ﹰﺎﻄﻴﳏ ﻖﻨﻌﻟﺍ ﰲ ﺀﻲﺸﻟﺍ ﻊﺿﻭ

“Meletakkan sesuatu di leher dengan melilitkan padanya seperti tali kekang.”

Secara istilah :

ﺔﺠﺣ ﻪﻟﻮﻗ ﺲﻴﻟ ﻦﻣ ﻉﺎﺒﺗﺍ

“Mengikuti perkataan orang yang perkataannya bukan hujjah.”

Keluar dari perkataan kami : ( ﺔـﺠﺣ ﻪـﻟﻮﻗ ﺲﻴـﻟ ﻦﻣ) “orang yang perkataannya
bukan hujjah” : ittiba’ (mengikuti) Nabi sholallohu alaihi wa sallam,
mengikuti ahlul ijma’, dan mengikuti shahabat jika kita katakan bahwa
perkataan shahabat tersebut adalah hujjah, maka mengikuti salah satu dari
hal tersebut tidaklah dinamakan taqlid, karena hal ini merupakan ittiba’
kepada hujjah. Akan tetapi terkadang disebut sebagai taqlid dari sisi majaz
dan perluasan bahasa.

Baca Juga: Sifat Allah

TEMPAT-TEMPAT TERJADINYA TAQLID (ﺪﻴﻠﻘﺘﻟﺍ ﻊﺿﺍﻮﻣ)

Taqlid dapat terjadi dalam dua tempat : Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

Yang pertama

seorang yang taqlid (muqollid) adalah orang awam yang
tidak mampu mengetahui hukum (yakni ber-istimbath dan istidlal, pent)
dengan kemampuannya sendiri, maka wajib baginya taqlid. Berdasarkan
firman Alloh sholallohu alaihi wa sallam :

ﺗ ﻻ  ﻢ ﺘ ﻨﹸﻛ ﹾ ﻥِﺇ ِ ﺮﹾ ﻛﱢ ﺬﻟﺍ ﹶ ﻞ ﻫﹶﺃ ﺍﻮﻟﹶ ﺄ ﺳﺎﹶﻓ ﹶ ﻥﻮ ﻤﹶ ﻠﻌ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika
kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]

Dan hendaknya ia mengikuti orang (yakni ‘ulama, pent) yang ia dapati
lebih utama dalam ilmu dan waro'(kehati-hatian)nya, jika hal ini sama pada
dua orang (‘ulama), maka hendaknya ia memilih salah seorang diantara
keduanya.

Yang kedua

terjadi pada seorang mujtahid suatu kejadian yang ia harus
segera memutuskan suatu masalah, sedangkan ia tidak bisa melakukan
penelitian maka ketika itu ia boleh taqlid. Sebagian ‘ulama mensyaratkan
untuk bolehnya taqlid : hendaknya masalahnya (yang ditaqlidi) bukan dalam
ushuluddin (pokok agama/aqidah, pent) yang wajib bagi seseorang untuk
meyakininya; karena masalah aqidah wajib untuk diyakini dengan pasti, dan
taqlid hanya memberi faidah dzonn (persangkaan).

Dan yang rojih (kuat) adalah bahwa yang demikian bukanlah syarat,
berdasarkan keumuman firman Alloh sholallohu alaihi wa sallam :

ﹶ ﻥﻮ ﻤﹶ ﻠ ﻌﺗ ﻻ  ﻢ ﺘ ﻨﹸﻛ ﹾ ﻥِﺇ ِ ﺮﹾ ﻛﱢ ﺬﻟﺍ ﹶ ﻞ ﻫﹶﺃ ﺍﻮﻟﹶ ﺄ ﺳﺎﹶﻓ
Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

135
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika
kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]

Ayat ini adalah dalam konteks penetapan kerosulan yang merupakan
ushuluddin, dan karena orang awam tidak mampu untuk mengetahui (yakni
ber-istimbath dan istidlal, pent) kebenaran dengan dalil-dalinya Maka jika ia
memiliki udzur dalam mengetahui kebenaran, tidaklah tersisa (baginya)
kecuali taqlid, berdasarkan firman Alloh sholallohu alaihi wa sallam :

 ﻢ ﺘ ﻌﹶ ﻄ ﺘ ﺳﺍ ﺎﻣ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﺍﻮﹸ ﻘ ﺗﺎﹶﻓ

“Bertakwalah kepada Alloh semampu kalian.” [QS. at-Taghobun : 16]