Penjelasan Mengenai Hukum, Tujuan & Permasalahan Khiyar

Penjelasan Mengenai Hukum, Tujuan & Permasalahan Khiyar

Penjelasan Mengenai Hukum, Tujuan & Permasalahan Khiyar

Penjelasan Mengenai Hukum, Tujuan & Permasalahan Khiyar
Penjelasan Mengenai Hukum, Tujuan & Permasalahan Khiyar

Hukum Akad Pada Khiyar

Ulama hanafiyah berpendapat bahwa tidak terjadi akad pad jual beli yang mengandung khiyar, tetapi ditanggung sampai gugurnya khiyar. Ulama malikiyah dalam riwayat ahmad, barang yang ada pada masa khiyar masih milik penjual, sampai gugurnya khiyar, sedangkan pembeli belum memiliki hak sempurna terhadap barang.
Ulama syafiiyah berpendapat, jika khiyar syarat berasal dari pembeli, barang menjadi milik pembeli. Sebalik nya, jika khiyar berasal dari penjual, barang menjadi hak penjual. Jika khiyar syarat berasal dari penjual atau pembeli, ditunggu sampai jelas (sampai gugurnya khiyar).
Ulama hanabilah berpendapat bahwa, dari siapapun khiyar berasal, barang tersebut menjadi milik pembeli. Jual beli dengan khiyar, sama seperti jual beli lainnya, yakni menjadikan pembeli sebagai pemilik barang yang tadinya milik penjual.

Cara Membatalkan Atau Menjadikan Akad

Membatalkan atau menjadikan akad dapat terjadi dengan adanya kemadaratan dengan adanya maksud (niat) dan khiyar (pilihan). Dengan kata lain, pembatalan, menurut ulama hanafiyah, cukup dengan lisan apabila pembatalan dengan lisan tersebut diketahui oleh pemilik barang, baik pemilik barang (penjual) ridha ataupun tidak. Sebaliknya, jika pembatalan tersebut tidak diketahui oleh penjual, baik khiyarnya berasal dari penjual atau pembeli, pembatalan di tangguhkan sampai diketahui penjual. Apabila habis waktu khiyar dan penjual tidak mengetahuinya akad menjadi lazim.
Ulama malikiyah, syafiiyah, dan hanabilah berpendapat bahwa apabila khiyar berasal dari pembeli, pembatalan akad menjadi sah walaupun tidak diketahui oleh penjual. Hal ini kerena adanya khiyar menunjukkan bahwa penjual rela aabila pembeli membatalkan kapan saja pembeli mengiginkanya.

Tujuan Khiyar

tujuan khiyar ialah agar orang-orang yang melakukan transaksi perdata tidak dirugikan dalam transaksi yang mereka lakukan, sehingga kemaslahatan yang dituju dalam suatu transaksi tercapai dengan sebaik-baiknya. Status khiyar, menurut ulama fiqh, adalah disyari’atkan atau dibolehkan karena suatu keperluan yang mendesak dalam mempertimbangkan kemaslahatan masing-masing pihak yang melakukan transaksi.

Khiyar Dan Permasalahannya

Siapa pemilik hak khiyar, penjual atau pembeli saja? Bagaimana hukum kasus tentang “ barang yang sudah di beli tidak boleh dikembalikan”. pada dasarnya khiyar pada jual beli diperbolehkan. Akan tetapi tergantung ketika akad jual beli berlangsung. Khiyar tidak sah jika salah satu pihak merasa dirugikan atau salah satu darinya ada sebuah kebohongan. Dalam pembahasan diatas sudah sangat jelas mengenai sah dan batalnya khiyar. Sah jika syaratnya terpenuhi, khiyar akan batal jika persyaratan tidak terpenuhi atau salah satu pihak merasa dirugikan. Karena unsur kebohongan, untuk itu apabila kita membeli sesuatu harus teliti, cermat dan hati-hati. pemilik hak khiyar adalah penjual dan pembeli, jadi apabila ada penjual yang sudah menuliskan “barang yang sudah dibeli tidak boleh dikembalikan”.

Itu merupakan akad dari penjual maka pembeli sebelum membeli atau mengesahkan jual belinya harus lebih teliti. Tetapi apabila kita merujuk pada hadits: عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اْلمُتَبَا يِعَانِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِا لْخِيَارِ عَلَى صَا حِبِهِ مَا لَمْ يَتَفَرَّ قَا إِلاَّ بَيْعَ الْخِيَا رِ.
Artinya: “ setiap penjual dan pembeli berhak memilih (khiyar) atas yang lainnya selama belum berpisah, kecuali jual beli khiyar. Boleh dikembalikan akan tetapi ada perjanjian akad dengan penjual meskipun sudah tertera “barang yang sudah dibeli tidak boleh dikembalikan.

Baca Juga: