Pengertian Talaq dan hukumnya

Pengertian Talaq dan hukumnya

Pengertian Talaq dan hukumnya

Pengertian Talaq dan hukumnya
Pengertian Talaq dan hukumnya

Pengertian Talaq

Talaq berasal dari kata “itlaq” yang berarti melepaskan atau meninggalkan. Sedangkan berdasarkan istilah syara’ ialah melepaskan atau membatalkan ikatan perkawinan. Talaq ialah perbuatan halal namun perbuatan tersebut sangat dibenci oleh Allah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu haditsnya :

عَنْ اَبِى عُمَر قَال :قال رَسُولُ الله صَلّى الله عليه أَبْغَضُ اَلْحَلَالِ عِنْدَ اَللَّهِ اَلطَّلَاقُ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ , وَابْنُ مَاجَهْ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ , وَرَجَّحَ أَبُو حَاتِمٍ إِرْسَالَهُ) )
Dari ibnu Umar sebetulnya Rasulullah saw bersabda : Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah Talaq”. HR.Abu daud, Ibnu Majah dan Hakim.

Hukum Talaq

Hukum talaq asalnya ialah makruh atau terlarang, tetapi lantaran sesuatu hal sanggup menjadi haram, sunnah, dan bahkan wajib. Talaq tanpa alasan hukumnya ialah haram lantaran hal itu sanggup membuat dan merusak kesucian nilai perkwainan yang dalam anutan agma islam nilainya sangat tinggi.

Talaq menjadi sunnah hukumnya apabila istri mengabaikan kewajiban terhadap Allah, misalkan meninggalkan sholat fardhu dan semacamnya, sedangkan suami sering memperingatkannya. Sedangkan talaqyang hukumnya wajib ialah bila terjadi perselisihan antara suami istri yang sudah sangat berat dan pihak hakim (penengah) menilai terbaik untuk menghentikan perselisihan ialah dengan cara talaq.

Karenanya berdasarkan Ibnu Abbas dalam sebuah kitabnya jalan untuk minta cerai itu, tidakboleh ditutup sama sekali. melaluiataubersamaini demikian akan mempersembahkan pesan yang tersirat baik terhadap suami, istri, dan keduanya. Sebab bila dalam keadaan diatas tetap dipertahakan untuk bersatu, maka akan menyiksa salah satu atau kedua belah pihak. Akan tetapi pintu cerai harus di dasarkan dengan banyak sekali pertimbangan dan alasan yang sanggup dipertanggung jawabankan.

Baca Juga: Ayat Kursi

Bentuk Talaq dan Bilangan Talaq

Bentuk talaq ada 3 (tiga) macam, yakni :

1. Talaq yang dijatuhkan sendiri oleh suami atas kehendaknya.

Keputusan talaq sekalipun berat dipihak suami, namun tidak dibenarkan berlaku sewenang-wenang. Apabila suami sangat berat sudah memutuskan unuk talaq, maka ia masih memiliki kewajiban-kewajiban sebagai diberikut :
Mut’ah, yakni mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada istrinya yang dicerai berdasarkan kemampuan suami
Melakukannya dengan baik dan bijaksana sehabis dipikirkan masak-masak demi penyelamatan dan perbaikan
Tidak menceraikan saat istri sedang mengandung, haid atau nifas

2. Khulu’

Khulu’ yaitu talaq yang dijatuhkan suami lantaran memenuhi seruan istri untuk memisahkan diri darinya dengan cara membayar tebusan ganti rugi kepada suami. Khulu’ ialah penceraian yang timbul dari pihak istri lantaran beberapa sebab, diantaranya :
Tidak tercipta lagi suasana keluarga yang serasi lantaran suami tidak sanggup berbuat secara ma’ruf hal ini berarti sudah melanggar perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an Surah An-Nisaa ayat 19 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Artinya :”Hai orang-orang yang diberiman tidak halal bagi engkau mempusakai wanita dengan jalan paksadan tidakbolehlah engkau menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang sudah engkau diberikan kepadanya, terkecuali bila mereka melaksanakan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila engkau tidak menyukai mereka maka bersabarlah lantaran mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.( Q.S.An-Nisaa ayat 19 )
Ada sifat dan atak yang tidak disukai oleh istri dan gres terlihat sehabis berlansung pernikahan
Suami sudah mengabaikan perintah-perintah Allah, sehingga mengkhawatirkan rusaknya agama istri. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-baqarah ayat 229

وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya : ” Tidak halal bagi engkau mengambil kembali dari sesuatu yang sudah engkau diberikan kapada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan sanggup menjalankan hukum-hukum Allah. Jika engkau khawatir bahwa keduanya ( suami-istri ) tidak sanggup menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang di diberikan oleh istri untuk menebus dirinya ( mut’ah) itulah aturan Allah, maka tidakbolehlah engkau melanggarnya. Baranng siapa yang melanggar aturan -hukum Allah mereka itulah orang -orang yang salim. ( QS. Al Baqarah : 229 )
Karena permintaan khulu’ berasal dari istri, maka istri harus siap mendapatkan resiko, yakni mengembalikan mahar kepada suami. Resiko yang lain, suami boleh mengabaikan permintaan sekalipun istri dalam keadaan haid.
Namun demikian, bila tidak ada alasan yang benar untuk melaksanakan khulu’ maka hukumnya makruh atau terlarang. Rasulullah saw bersabda :
artinya : ” ( Istri-istri ) yang meminta khulu’ ( tanpa lantaran ) ialah perempuan munafik”. (HR. Ahmad dan Nasai )

3. Fasakh

Fasakh ialah penjatuhan talaq yang dilakukan oleh hakim kepada suami untuk menceraikan istrinya di sebabkan adanya perpecahan di antara mereka, sementara suami tidak mau atau tidak sanggup melakukannya.
Fasakh ialah perceraian yang timbul atas pengaduan istri lantaran beberapa sebab, yakni :
a. Terdapat suatu malu atau cacat pada salah satu pihak.
sepertiyang yang dijelaskan oleh hadist Rasulullah saw :
artinya : ” Dari Ali ra berkata : Siapa saja menikahi wanita. kemudian sehabis dukhul (bersetubuh ) dengan perempuan itu ternyata terdapat penyakit ( sopak, gila, kusta ) maka bagi perempuan itu berhak atas suaminya ( yakni wanita itu biar mengembalikannya ) dan pertolongan itu atas orang yang menipunya.Atau apabila ternyata terdapat daging tumbuh, maka si suami boleh pilih, yakni bila sudah menyentuhnya maka wanita itu berhak maskawinnya. lantaran melaksanakan sesuatu yang halal atas farjinya”. ( H.R. Said bin Mansur)
b. Suami tidak mampu mempersembahkan nafkah ( lahir dan batin ).
c. Mengumpulkan dua orang yang bersaudara sebagai istri
d Penganiayaa yang berat pada istri
e. Suami murtad atau hilang tidak terang hidup dan matinya
sepertiyang talaq dan khulu’, fasak juga dilarang dipergunakan sewenang-wenang, ia merupakan jalan terakhir yang baru akan ditempuh apabila memang tidak ada jalanlain yang sanggup memperbaiki dan menyelamatkan.
sepertiyang firman Allah dalam Q.S Al-Ahzab ayat 49 :

فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

Artinya : ” Maka diberilah mereka mut`ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.
Bilangan Talaq
Tiap-tiap orang yang merdeka berhak menjatuhn talaq kepada istrinya, baik talaq satu, dua dan talaq tiga. Namun untuk menghindari tindakan sewenang-wenang dan penyalagunaan talaq, maka jumlah talaq yang boleh kembali rujuk dibatasi sampai dua kali yakni talaq satu dan talaq dua dibolehkan untuk kembali rujuk sebelum habis masa iddahnya atau berkeluarga kembali sehabis masa iddah