Pengertian Subyek Hukum Menurut Hukum Islam.

Pengertian Subyek Hukum Menurut Hukum Islam.

Dalam kitab-kitab Fiqih ataupun ushul Fiqih istilah subyek hukum  menggunakan istilah mahkum alaih dan mukalaf.  مُكَلَفٌ adalah isim maf’ul dari fi’il madhi كَلَفَ dan fi’il mudhore يُكَلِفُ yang artinya orang yang terbebani, mukalaf  Menurut istilah orang-orang muslim yang sudah dewasa dan berakal, dengan syarat ia mengerti apa yang dijadikan beban baginya.[1]

Menurut Prof. Dr. H. Rachmat Syafi’I dalam bukunya mengatakan Mahkum Alaih adalah orang yang telah dianggap mampu bertindak hukum dan layak mendapatkan beban hukum (taklif), baik yang berhubungan dengan perintah Allah atau larangan Allah.[2]

Abdul Wahab Kholaf memberi syarat bagi orang yang disebut mukalaf, syarat itu pertama adalah Mukalaf Mampu memahami dalil taklifi (Pembebanan), seperti dia harus mampu memahami nash-nash hukum yang dibebankan kepadanya dari al Qur’an dan As -sunnah secara langsung atau dengan perantara.[3] Kedua, Mukalaf adalah  ahli dengan sesuatu yang dibebankan padanya, Ahli menurut bahasa artinya layak dan pantas.[4]

Dari  definisi mukalaf di atas, maka dapat disimpulkan  bahwah mukalaf adalah orang yang berakal dan dewasa yang dianggap mampu oleh hukum untuk bertindak sebagai pelaku hukum dan mengerti tentang kewajiban dan larangan yang dibebankan padanya. Dengan demikian orang yang tidak berakal seperti orang gila, ayan atau orang dalam keadaan tidur tidak disebut dengan subyek hukum secara penuh, sebab mukalaf adalah orang yang berakal. Begitu juga orang yang belum dewasa tidak bisa sebagai subyek hukum secara penuh, sebab mukalaf harus orang yang telah baligh, dan juga orang yang belum mengetahui atau belum sampai kepadanya hukum syariat, ia tidak dikatakan mukalaf sebab mukalaf adalah orang yang harus mengerti tentang hukum wajib dan larangan dari nash atau dari orang lain.


  1. Dasar subyek hukum subyek hukum.

Dasar penetapan subyek hukum dalam hukum Islam adalah diambil dari  Surat Al Baqarah ayat 286 yang berbunyi:

لاَيُكَلِفُ اللَّهُ نفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا……..الاية

Artinya: Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya…..

Tentang sanksi hukum tidak akan dibebankan pada mukalaf sebelum diutusnya utusan terlebih dahulu hal ini diterangkan dalam surat Al Isra’ Ayat 15.

وَمَاكُنَّا مُعَذِبِيْنَ حَتَى نَبْعَثَ رَسُوْلاً

Artinya: Dan kami tidak akan menyiksa sehingga mengutus rasul lebih dulu.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh abu Dawud dan Nasai dijelaskan subyek hukum yang tidak wajib menjalankan kewajiban dan  larangan syari’ (Allah) jika dalam keadaan tertentu.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَثَةٍ, عَنْ النّاَئِمِ حَتَى يَسْتَيقِظُ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَى يَحْتَلِمَ, وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَى يَعْقِلَ

Artinya : Diangkatlah pena itu (tidak terkena tuntutan hukum) atas tiga orang, orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai berusia baligh (dewasa) dan orang gila sampai ia berakal.

Sumber :

https://obatpenyakitherpes.id/teka-teki-di-android-terbaru/