PENGERTIAN DAN TUJUAN AKHLAK TASAWUF

PENGERTIAN DAN TUJUAN AKHLAK TASAWUF

PENGERTIAN DAN TUJUAN AKHLAK TASAWUF

PENGERTIAN DAN TUJUAN AKHLAK TASAWUF
PENGERTIAN DAN TUJUAN AKHLAK TASAWUF

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Membuat suatu rumusan tentang definisi dan batasan tegas yang berkaitan dengan pengertian tasawuf adalah hal yang tidak mudah. Hal ini telah diakui oleh para ahli dalam bidang tasawuf. Keadaan demikian disebabkan terutama karena kecenderungan spiritual terdapat pada setiap agama, aliran filsafat, dan peradaban dalam berbagai kurun waktu. Oleh karena itu, wajar apabila setiap orang menyatakan pengalaman pribadinya dalam konteks pemikiran dan kepercayaan yang berkembang pada masyarakat.

Dalam hal ini, tasawuf tidak hanya sekedar menarik perhatian para peneliti muslim ataupun orientalis, tetapi juga menarik perhatian masyarakat awam yang akhir-akhir ini justru merasa terbelenggu berbagai kecenderungan materialisme. Mereka membutuhkan sesuatu yang bisa memuaskan akal budinya, menentramkan jiwanya, memutihkan kepercayaan dirinya, sekaligus mengembalikan keutuhannya yang nyaris punah karena dorongan kehidupan materialistis dalam berbagai konfliks ideologis.

  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Apa pengertian akhlak tasawuf?
  2. Apa tujuan dari akhlak tasawuf?
  1. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:

  1. Pengertian akhlak tasawuf
  2. Tujuan akhlak tasawuf

       

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Akhlak Tasawuf

Tasawuf merupakan bagian dari kajian islam yang tak terpisahkan dari kajian Islam lainnya, sesperti halnya kajian tuhid dan fikih. Jika aksentuasi kajian tauhid terletak  pada soal-soal akidah ­­­– pengesaan Allah Swt. Dan berbagai hal terkait dengan soal pokok-pokok agama –dan kajian fikih menitik beratkan pada soal-soal ijtihadiyang bersifat haliyah-‘amaliyah-furu’iyah, maka tasawuf kajiannya terletak pada soal-soal batini menyangkut hal-hal dzauqi,ruhani, dan sangat esoteris. Hal-hal inilah yang kemudian membawa pada diskursus bahwa inti ajaran tasawuf adalah untuk mencapai kehidupan batini dan  ruhani (pertalian langsung dengan Allah).

Dari sudut kebahasan, perkataan “akhlaq” berasal dari bahasa Arab yaitu “ akhlaqun” sebagai jamak dari kata “khulqun” yang berarti: budi pekerti, perangai, kelakuan atau tingkah laku, tabiat.

Perkataan “akhlak” berkaitan erat dengan perkataan “khalqun” yang berarti kejadian, serta erat pula hubungannya dengan kata “khaaliqun” yang berarti pencipta dan juga dengan kata “makhluqun” yang berarti diciptakan.[1]

Tasawuf berasal dari kata sufi. Orang pertama yang memakai kata sufi adalah seorang zahid  atau ascetic bernama Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. 150 H.). Istilah-istilah seperti kata abid, nasik, zahid dan kemudian sufi yang digunakan para ahli ibadah, baru dikenal setelah generasi sahabat dan  tabi’in.[2]

Dalam kitab Kasyfal-Mahjub,al-Hujwiri telah menjelaskan asal usul kata tasawuf. Pertama, istilah tasawuf berasal dari kata al-shuf , yaitu wol. Disebut sufi karna kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba. Kedua, istilah tasawuf berasal dari kata al-shuf, yaitu barisan pertama didepan Tuhan, karna besarnya keinginan mereka terhadap Tuhan, kecendurungan hati merek terhadap-Nya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka

dihadapan-Nya. Ketiga, istilah tasawuf berasal dari kata ahl al-shuffah karena para sufi mengaku  sebagai golongan ahl al-shuffah yang diridai Allah. Mereka disebut sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang yang tinggal diserambi mesjid(shuffah) yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw. Keempat, istilah tasawuf berasal dari kata al-shafa’ yang artinya kesucian, sebagai makna bahwa para sufi telah menyucikan akhlak mereka dari noda-noda bawaan, dan karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan mereka. Kaum sufi menjaga moral dan menyucikan diri mereka dari kejahatan dan keinginan duniawi, sebab itulah mereka disebut sufi.[3]

            Berdasarkan pendapat sejumlah sufi diatas, dapat dipahami bahwa tasawuf merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan penyucian jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  1. Tujuan Tasawuf

Berangkat dari keadaan hina dan kotor, melalui metode yakni suluk, manusia berusaha menggapai kebajikan-kebajikan rohani dalam jiwanya, metode demikian itu telah mengantarkan manusia (para sufi) menuju Tuhannya.

Itulah tujuan akhir tasawuf, menjalin hubungan yang baik dari harmonis antara manusia dengan Tuhan. Mendekatlah dari sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihatNya denga mata hati. Bahkan rohnhya dapat bersatu dengan roh Tuhan.

Tujuan tasawuf tersebut tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup manusia sebagaimana dijelaskan dalam ajaran islam. Tujuan tasawuf adalah menyucikan jiwa, hati dan menggunakan perasaan, pikiran, dan semua fakultasyang dimiliki sang salik(pelaku tasawuf) untuk tetap berada pada jalan Sang Kekasih, Tuhan Semesta Alam, untuk hidup berlandaskan ruhani. Tasawuf juga memungkinkan seseorang melalui amalan-amalan yang istiqamah (konsisten& kontinu) dalam pengabdiannya kepada Tuhan, memperdalam kesadarannya dalam pelayanan dan pengabdiannya kepada Tuhan.[4]

Ini memungkinkan untuk “meninggalkan” dunia ini, yang hanya merupakan tempat singgah sementara . sang salik mesti menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini haya tempat ia enumpang, dan bukan tempat menetap atau tujuannya untuk selamanya. Ia berjaga-jaga agar tidak terjebak oleh keindahan lahir dunia yang telah menghancurkan banyak kehidupan manusia. Dunia lahir ini telah banyak menarik hasrat, nafsu, dan khayalan manusia, sehingga mereka lupa dan lalai dari tujuannya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan ruhnya dapat

bersatu dengan Ruh Tuhan. Filosofi yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah pertama, Tuhan bersifat ruhani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah ruh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Mahasuci, maka yang dapat dterima Tuhan untuk mendekati-Nya adalah ruh yang suci pula. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri  manusia kepada Tuhan melalui penyucian ruhnya. [5]

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Tasawuf berasal dari kata sufi. Orang pertama yang memakai kata sufi adalah seorang zahid  atau ascetic bernama Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. 150 H.). Istilah-istilah seperti kata abid, nasik, zahid dan kemudian sufi yang digunakan para ahli ibadah, baru dikenal setelah generasi sahabat dan  tabi’in. Berdasarkan pendapat sejumlah sufi diatas, dapat dipahami bahwa tasawuf merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan penyucian jiwa manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. Filosofi yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah pertama, Tuhan bersifat ruhani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah ruh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Mahasuci, maka yang dapat dterima Tuhan untuk mendekati-Nya adalah ruh yang suci pula

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/