Pencegahan Hiperbilirubinemia

Pencegahan Hiperbilirubinemia

                 Perlu dilakukan terutama bila terdapat faktor risiko seperti riwayat inkompatibilitas ABO sebelumnya. AAP dalam rekomendasinya mengemukakan beberapa langkah pencegahan hiperbilirubinemia sebagai berikut:

Primer

                 AAP merekomendasikan pemberian ASI pada semua bayi cukup bulan dan hampir cukup bulan yang sehat. Dokter dan paramedis harus memotivasi ibu untuk menyusukan bayinya sedikitnya 8-12 kali sehari selama beberapa hari pertama.

                 Rendahnya asupan kalori dan atau keadaan dehidrasi berhubungan dengan proses menyusui dan dapat menimbulkan ikterus neonatorum. Meningkatkan frekuensi menyusui dapat menurunkan kecenderungan keadaan hiperbilirubinemia yang berat pada neonatus. Lingkungan yang kondusif bagi ibu akan menjamin terjadinya proses menyusui yang baik.
AAP juga melarang pemberian cairan tambahan (air, susu botol maupun dekstrosa) pada neonatus nondehidrasi. Pemberian cairan tambahan tidak dapat mencegah terjadinya ikterus neonatorum maupun menurunkan kadar bilirubin serum.

  1. Sekunder

                 Dokter harus melakukan pemeriksaan sistematik pada neonatus yang memiliki risiko tinggi ikterus neonatorum.

1)  Pemeriksaan Golongan Darah

                 Semua wanita hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta menjalani skrining antibodi isoimun. Bila ibu belum pernah menjalani pemeriksaan golongan darah selama kehamilannya, sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan golongan darah dan Rhesus. Apabila golongan darah ibu adalah O dengan Rh-positif, perlu dilakukan pemeriksaan darah tali pusat. Jika darah bayi bukan O, dapat dilakukan tes Coombs.

2) Penilaian Klinis

                 Dokter harus memastikan bahwa semua neonatus dimonitor secara berkala untuk mengawasi terjadinya ikterus. Ruang perawatan sebaiknya memiliki prosedur standar tata laksana ikterus. Ikterus harus dinilai sekurang-kurangnya setiap 8 jam bersamaan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital lain.

                 Pada bayi baru lahir, ikterus dapat dinilai dengan menekan kulit bayi  sehingga memperlihatkan warna kulit dan subkutan. Penilaian ini harus dilakukan dalam ruangan yang cukup terang, paling baik menggunakan sinar matahari. Penilaian ini sangat kasar, umumnya hanya berlaku pada bayi kulit putih dan memiliki angka kesalahan yang tinggi. Ikterus pada awalnya muncul di bagian wajah, kemudian akan menjalar ke kaudal dan ekstrimitas.

  1. Pendarahan Tali Pusat
  2. Pengertian Pendarahan Tali Pusat

                 Perdarahan yang terjadi pada tali pusat bisa timbul sebagai akibat dari trauma pengikatan tali pusat yang kurang baik atau kegagalan proses pembentukkan trombus normal. Selain itu perdarahan pada tali pusat juga bisa sebagi petunjuk adanya penyakit pada bayi.

  1. EtiologiPendarahan Tali Pusat

1) Robekan umbilikus normal, biasanya terjadi karena :

  1. Patus precipitates
  2. Adanya trauma atau lilitan tali pusat
  3. Umbilikus pendek, sehingga menyebabkan terjadinya tarikan yang berlebihan pada saatpersalinan
  4. Kelalaian penolong persalinan yang dapat menyebabkan tersayatnya dinding umbilikus atauplacenta sewaktu sectio secarea

2) Robekan umbilikus abnormal, biasanya terjadi karena :

  1. Adanya hematoma pada umbilikus yang kemudian hematom tersebut pecah, namunperdarahan yang terjadi masuk kembali ke dalam placenta. Hal ini sangat berbahaya bagibayi dan dapat menimbulkan kematian pada bayi
  2. Varises juga dapat menyebabkan perdarahan apabila varises tersebut pecah
  3. Aneurisma pembuluh darah pada umbilikus dimana terjadi pelebaran pembuluh darahsetempat saja karena salah dalam proses perkembangan atau terjadi kemunduran dinding pembuluh darah. Pada aneurisme pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah rapuh dan mudah pecah.

Sumber: https://newsinfilm.com/