Pembagian subyek hukum dari segi hak dan kewajibannya.

Pembagian subyek hukum dari segi hak dan kewajibannya.

Sebagaimana telah diketahui di atas, bahwa subyek hukum (mukalaf) harus mengenal hukum dari nash atau mengenal hukum dari orang lain, ia juga harus memiliki keahlian (kelayakan, kepantasan dan kecakapan) mejalankan perintah atau meninggalkan larangan yang dilarang dalam hukum syari’at. Menurut ulama ushul Fiqih sebagaimana dikatakana oleh Abdul Wahab Kholaf dalam bukunya, bahwa keahlian itu terbagi menjadi dua yakni keahlian wajib dan keahlian melaksnakan.[5]

Lebih lanjut beliau memaparkan, keahlian wajib adalah kelayakan seseorang untuk mendapatkan hak dan kewajiban.[6] Keahlian wajib ini berlaku bagi setiap manusia dengan keadaan bahwa ia adalah manusia baik laki-laki maupun perempuan, berupa janin, anak-anak, mumayizbaligh, pandai atau bodoh, berakal atau gila sehat maupun sakit.[7]

Keahlian wajib pada mukalaf ini dibagi menjadi dua bagian menurut kelayakan menerima hak dan tidak layak menerima haknya atau melaksanakan kewajibannya dan tidak melaksanakan kewajibannya.

  1. Keahlian wajib yang tidak sempurna, jika mukalaf itu layak mendapat haknya tapi tidak harus menunaikan kewajibanya atau sebaliknya.[8]

Contoh seorang mukalaf yang mendapat haknya tanpa wajib melaksanakan  kewajiban kepada orang lain adalah seorang bayi  yang ada dalam kandungan, ia mendapatkan warisan tapi ia tidak wajib melaksanakan kewajiban terhadap orang lain.

Contoh seorang mukalaf yang wajib melakukan kewajibannya tanpa mendapatkan haknya adalah seorang yang meninggal yang memiliki hutang, ia tetap harus membayar hutangnya melalui ahli warisnya.

  1. Keahlian wajib yang sempurna, jika mukalaf layak mendapat hak dan melaksanakan kewajiban.

Contohnya adalah orang yang telah lahir hingga tuanya, orang semacam ini ia dapat menerima haknya dan wajib melakukan kewajiban. Anak kecil berhak menerima waris, dan wajib melakukan hukum

Sedang keahlihan melaksnakan adalah kelayakan sesorang mukalaf agar ucapan dan perbuatannya diperhitungkan menurut syara’. Artinya, jika ucapan atau perbuatan itu menimbulkan akad atau penglolaan, maka diperhitungkan  menurut syara’ dan akan berakibat hukum. Jika ia melaksanakan shalat, puasa, haji atau melaksanakan suatu kewajiban, maka yang dilakukan itu diperhitungkan oleh syara’dan gugurlah kewajiban itu baginya. Jika ia melakukan  kriminal atas jiwa, harta atau harga diri orang lain, maka ia berdosa akibat tindakannya dan diberi hukuman pada fisik atau hartanya. Keahlian inilah yang dimintai pertanggungjawaban.[9]

  1. Keahlian melaksanakan kurang, yaitu kepantasan seseorang untuk memenuhi sebagian kewajiban dan tidak pantas untuk memenuhi kewajiban lainya. Ahli yang termasuk golongan ini adalah anak yang berusia tujuh tahun sampai usia baligh. Anak seperti ini disebut mumayyiz.[10] Anak diusia ini jika melakukan ibadah, maka sah ibadahnya, walau belum terkena kewajiban.
  2. Ahli melaksanakan sempurna, yakni orang yang telah mencapai usia baligh.[11] Usia ahli ini jika melakukan ibadah hukumnya telah wajib dan berdosa jika meninggalkan kewajiban.

  1. Hilangnya status subyek hukum.

Subyek hukum atau pelaku hukum dalam hukum Islam dapat kehilangan keahliannya dalam waktu tertentu dan keadaan tertentu. Keahlian tersebut bisa hilang karena kodrat tuhan (dari kehendak tuhan) dan bisa juga hilang karena ada usaha manusia itu sendiri untuk menghilangkan posisinya sebagai subyek hukum.

Keahlian yang hilang karena kodrat tuhan adalah gila, ketiduran, dipaksa untuk melakukan sesuatu yang melanggar syari’at atau meninggalkan suatu perintah dan lain sebagainya. Orang yang gila ia tidak wajib untuk menjalankan beberapa ibadah contohnya sholat, haji dan beberapa macam transaksi jual beli atau perjanjian. ia tetap mendapatkan haknya karena ia termasuk ahli wajib yang wajib menerima hak-haknya, sehingga ia wajib mendapat perlindungan hukum, ia mendapat warisan dan mendapat pengusaan selama hidupnya baik oleh keluarga atau pun badan hukum.

Sedangkan keahlian yang hilang karena usaha manusia itu sendiri adalah mabuk, banyak hutang yang tidak bisa membayarnya dan lain sebagainya. Orang yang menyengaja mabuk tanpa ada kealfaan atau paksaan dari pihak lain, maka ia masih mendapat kewajiban melakukan ibadah  yang diwajibkan padanya, akan tetapi ia tidak punya keahlian dalam melakukan transaksi, perjanjian atau menjatuhkan tholak. Sedang orang banyak hutang, ia juga tetap wajib menjalankan kewajiban ibadahnya akan tetapi tidak dapat mentasyarufkan hartanya.

POS-POS TERBARU