Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Israiliyyat

Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Israiliyyat

Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Israiliyyat

Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Israiliyyat
Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Israiliyyat

 

Sejak tahun 70 M

kaum Ahli Kitab yang mayoritas orang Yahudi telah berimigrasi secara besar-besaran ke jazirah arab untuk menghindari tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh Nitus, seorang panglima Romawi. Dan mereka sering mengadakan perjalanan baik ke arah barat maupun ke arah timur. Sengan demikian, banyak mempengaruhi orang-orang timur dan sebaliknya juga mempengaruhi orang-orang barat. Sementara itu, Bangsa Arab di zaman Jahiliyah juga banyak melancong ke negeri lain. Kondisi seperti ini terus berlanjut hingga Islam lahir dan berkembang di jazirah Arab.

Kondisi dua kebudayaan ini, yaitu Yahudi dan muslim melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbeda hingga tidak jarang terjadi dialog antara keduanya. Mereka saling bertukar pikiran ihwal masalah-masalah keagamaan. Bahkan, Rasulullah sendiri sering dihujani pertanyaan oleh orang-orang Yahudi, terutama menyangkut keabsahan beliau sebagai Nabi dan utusan. Akan tetapi, karena keabsahan Nubuwah dan risalah agama Islam berikut Alquran sebagai petunjuk hidupnya dapat dibuktikan secara konkrit, maka Rasulullah dapat menarik mereka masuk ke dalam agama Islam.

Pada era Rasulullah

informasi dari kaum Yahudi yang dikenal sebagai israiliyat tidak banyak berkembang dalam penafsiran Alquran, sebab hanya beliau satu-satunya yang menjelaskan berbagai masalah atau pengertian yang berkaitan dengan ayat-ayat Alquran. Israiliyat sebenarnya sudah muncul dan lama berkembang di kalangan bangsa Arab jauh sebelum Rasulullah lahir, yang kemudian terus bertahan pada era Rasulullah. Hanya saja, pada waktu itu israiliyat belum menjada khazanah dalam penafsiran Alquran.

Permasalahan yang muncul kemudian

adalah bahwa sepeninggal Rasulullah, tidak seorangpun berhak menjadi penjelas wahyu Allah. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh para sahabat adalah dengan ekstra hati-hati melakukan ijtihad sendiri, manakala mereka menjumpai masalah tersebut, seperti kisah-kisah nabi atau umat-umat terdahulu. Hal ini terjadi mengingat kadang-kadang ada persamaan antara, Alquran, Taurat, dan Injil. Hanya saja Alquran berbicara secara ringkas dan padat, sementara Taurat dan Injil berbicara dengan panjang lebar. Sumber-sumber israiliyat yang terkenal di kalangan Yahudi adalah Abdullah bin Salam, Ka’ab bin Akhbar, Wahab bin Munabbih, dan Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij.[5] Sementara di kalangan para sahabat adalah Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, dan Abdullah bin Amr bin Ash. Mereka ini adalah narasumber kedua.
Pada era sahabat inilah kisah israiliyat mulai berkembang dan tumbuh subur. Hanya saja, dalam menerima riwayat dari kalangan Yahudi dan Nasrani pada umumnya mereka amat ketat. Mereka hanya membatasi pada sekitar kisah-kisah dalam Alquran yang diterangkan secara global dan Nabi sendiri tidak menerangkan kepada mereka mengenai kisah-kisah tersebut. Di samping itu, mereka terkenal sebagai orang-orang yang konsisten dan konsekuen pada ajaran yang diterima dari Rasulullah, sehingga ketika mereka menjumpai kisah-kisah israiliyat yang bertentangan dengan syariat Islam mereka langsung menentangnya sebaliknya, apabila kisah-kisah israiliyat itu benar maka merekapun menerimanya. Dan apabila kisah-kisah itu diperselisihkan kebenarannya, mereka menangguhkannnya.

Baca Juga: