Lansekap ’Agro Garden’ dalam Perancangan Lansekap

Lansekap ’Agro Garden’ dalam Perancangan Lansekap

Taman agro adalah hal baru yang kontroversial di bidang desain taman. Konsep agro graden menawarkan pilihan jenis tanaman pekarangan / bangunan berupa tanaman produktif seperti sayur mayur dan umbi-umbian. Konsep ini mulai berkembang seiring dengan cepatnya tantangan pemanasan global dan dorongan untuk meningkatkan efisiensi. Sebuah proyek percontohan agro-garden yang mengesankan dilakukan oleh Michelle Obama (istri Presiden AS Barack Obama), yang merestorasi taman di gedung putih, mengubah tanaman hias menjadi tanaman produktif.

Memang tidak semua orang setuju dengan konsep agro garden, karena tanaman hias tidak akan permanen dan akan selalu berubah dan ditanam kembali sesuai dengan masa pemasakan tanaman produktif. Nuansa taman akan berubah dari saat lahan disiapkan, saat benih disemai untuk tanaman muda dewasa dan dipanen, kemudian nuansa menyiapkan tanah untuk penanaman akan kembali lagi. Perawatan tanaman ini memang lebih tinggi dibandingkan tanaman hias murah, namun hasil yang didapat tentunya seimbang untuk mengimbangi biaya perawatan. Apalagi kebiasaan memilih tanaman hias yang memiliki nilai estetika sebagai “hiasan” sulit diubah dengan paradigma bahwa tanaman sayur, umbi-umbian, dan buah-buahan juga memiliki nilai estetika.

Perencanaan agro-kebun harus didasarkan pada pengetahuan pertanian tentang sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian yang dipilih. Tanpa sepengetahuannya, suatu agro garden akan rusak, tidak produktif bahkan rentan terhadap hama. Pengetahuan pertanian berkaitan dengan waktu tanam, perawatan dan penyiraman, pencegahan hama, kegiatan panen dan pasca panen. Perawatan ini dapat diberikan kepada tukang kebun yang telah memiliki pengetahuan dasar pertanian, atau dapat dilakukan secara mandiri dengan tambahan pengetahuan pertanian / hortikultura.

Di beberapa petak dengan lahan yang lebih sedikit, telah ditanam kebun produktif dalam pot bunga, tetapi hal ini sebaiknya tidak dilakukan. Betapapun sempitnya lahan, tanaman sebaiknya ditanam di atasnya agar resapan air tanah lancar. Di tanah sempit, bangunan harus lebih fleksibel, jika perlu, di bawah bangunan korban, sedangkan ruang efektif untuk aktivitas manusia ada di atasnya. Menanam tanaman dalam pot membutuhkan biaya dan perawatan yang lebih tinggi, dan tentunya bertentangan dengan konsep ekspektasi pemanasan global.

Perancangan lainnya: tubaguskencanaarsitek.co.id

Banyak orang yang salah mengartikan solusi pemanasan global dengan menyebarkan tanaman sehingga tercipta ruang terbuka hijau di atas lempengan beton di atas gedung. Bahkan, hal ini meningkatkan biaya, yang pada akhirnya berdampak merugikan pada sistem permukiman lingkungan. Pembuatan pelat beton itu mahal dibanding atap genteng, mengangkat tanaman ke atap juga mahal, belum lagi perawatan dan pengairan yang jauh dari permukaan tanah juga membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit.