Kota dan Perkembangannya

Kota dan Perkembangannya

Kota dan Perkembangannya

Kota dan Perkembangannya

Pengertian Kota

Dalam pengertian geografis, kota itu adalah suatu tempat yang penduduknya rapat, rumah-rumahnya berkelompok kelompok, dan mata pencaharian penduduknya bukan pertanian. Sementara menurut Bintarto, 1987, kota dalam tinjauan geografi adalah suatu bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar, dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah di belakangnya.

Tinjauan di atas masih sangat kabur dalam arti akan sulit untuk menarik batas yang tegas untuk mendefinisi kota dan membedakannya dari wilayah desa apabila menginginkan tinjauan tersebut. Tinjauan di atas merupakan batasan kota dari segi sosial. Dalam perkembangannya, konsep-konsep kota paling tidak dapat dilihat dari 4 sudut pandang, yaitu segi fisik , administratif, sosial dan fungsional. Dengan banyaknya sudut pandang dalam membatasi kota, mengakibatkan pemahaman kota dapat berdimensi jamak dan selama ini tidak satupun batasan tolak ukur kota yang dapat berlaka secara umum.

Kota dalam tinjauan fisik atau morfologi menekankan pada bentuk-bentuk kenampakan fisikal dari lingkungan kota. Smailes (1955) dalam Yunus (1994) memperkenalkan 3 unsur morfologi kota yaitu penggunaan lahan, pola-pola jalan dan tipe atau karakteristik bangunan. Sementara itu Conzen (1962) dalam Yunus (1994) juga mengemukakan unsur -unsur yang serupa dengan dikernukakan Smailes, yaitu plan, architectural style and land use.

Berdasarkan pada berbagai macam unsur morfologi kota yang dikemukakan di atas, terlihat bahwa secara umum unsur-unsur morfologi kota berkisar antara karakteristik bangunan, pola jalan dan penggunaan lahan.Unsur-unsur ini yang paling sering digunakan untuk mengenali suatu daerah secara, morfologis, kota atau bukan.

Secara garis besar ada tiga macarn proses perluasan areal kekotaan (urbansprawl)menurut Hadi Sabari Yunus, yaitu:

  1. Perembetan konsentris

Tipe pertama ini dikemukakan oleh Haevey Clark denganJenis perembetan ini berlangsung paling lambat karena perembetan berjalan perlahan-lahan terbatas pada semua bagian luar kenampakan fisik kota. Proses perembetan ini menghasilkan bentuk kota yang relatif kompak dan peran transportasi tidak begitu besar.

  1. Perembetan memanjang

Tipe ini dikenal dengan ribbon development linear yang menunjukkan, ketidak merataan perembetan areal perkotaan di semua bagian sisi luar dari kota utarna. Perernbetan paling cepal terlillat disepapJang jalur transportasi yang ada, khususnya yang bersifat menjari dari pusat kota.

  1. Perembetan yang meloncat

Tipe ini dikenal sebagai leaf ftog development dan dianggap paling merugikan. Hal ini karena perembetan ini tidak efisien dalam arti ekonorni, tidak mempunyai estetika dan tidak. menarik. Perkernbangan lahan terjadi berpencaran secara sporadis dan menyulitkan pernerintah kota untuk membangun prasarana fasilitas kebutuhan hidup penduduknya. Tipe ini sangat cepat menimbulkan darnpak negatif terhadap kegiatan pertanian, memunculkan kegiatan spekulasi lahan, dan menyulitkan upaya penataan ruang kota.

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Dalam Perkembangan Kota

Aspek perkernbangan dan pengernbangan wilayah tidak dapat lepas dari adanya ikatan-ikatan ruang perkernbangan wilayah secara geograris. Menurut Yunus (1981) proses perkembang,ini dalam arti luas tercermin. Chapin (dalam Soekonjono, 1998) mengemukakan ada 2 hal yang mempengaruhi tuntutan kebutuhan ruang yang selanjutnva menyebabkan perubahan penggunaan lahan yaitu:

  1. Adanya perkembangan penduduk dan perekonomian,
  2. Pengaruh sisterm aktivitas, sistem pengembangan, dan sistem lingkungan.

Variabel yang berpengaruh dalarn proses perkembangan kota menurut Raharjo (dalam Wdyaningsih, 2001), adalah:

  1. Penduduk, keadaan penduduk, proses penduduk, lingkungan sosial penduduk
  2. Lokasi yang strategis, sehingga aksesibilitasnya tinggi
  3. Fungsi kawasan perkotaan, merupakan fungsi dorminan yang mampu menimbulkan
  4. Kelengkapan fasilitas sosial ekonomi yang merupakan faktor utama timbulnya perkembangan dan pertumbuhan pusat kota
  5. Kelengkapan sarana dan prasarana transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas penduduk ke segala arah
  6. Faktor kesesuaian lahan
  7. Faktor kemajuan dan peningkatan bidang teknologi yang mempercepat proses pusat kota mendapatkan perubahan yang lebih maju.

Struktur Tata Ruang Kota

Struktur tata ruang kota dapat membantu dalam memberi pernahaman tentang perkernbangan suatu kota. Ada 3 (tiga) teori struktur tata ruang kota yang berhubungan erat dengan perk embangain guna lahan kota dan perkembangan kota, yaitu (Chapin, 1979).

Teori Konsentrik (concentriczone concept) yang dikemukakan EW.Burkss.

Dalam teori konsentrik ini, Burgess mengemukakan bahwa bentuk guna lahan kota membentuk suatu zona konsentris. Dia mengemukakan wilayah kota dibagi dalam 5 (lima) zona penggunaan lahan yaitu:

  1. Lingkaran dalam terletak pusat kota (central business distric atau CBD) yang terdiri bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar dan pusat perbelanjaan.
  2. Lingkaran kedua terdapat jalur peralihari yang terdiri dari: rumah-rumah sewaan, kawasan industri, dan perumahan buruh.
  3. Lingkaran ketiga terdapat jalur wisma buruh, yaitu kawasan perumahan untuk tenaga kerja pabrik.
  4. Lingkaran keempat terdapat kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja kelas menengah.
  5. Lingkaran kelima merupakan zona penglaju yang merupakan tempat kelas menengah dan kaum berpenghasilan tinggi.

Teori sektor (sector concept) yang dikemukakan oleh Hommer Hoyt.

Dalam teori ini Hoyt mengemukakan beberapa masukan tambahan dari bentuk guna lahan kota yang berupa suatu penjelasan dengan penggunaan lahan permukiman yang lebih memfokusan pada pusat kota dan sepanjang jalan transportasi. Dalam teorinya ini, Hoyt membagi wilayah kota dalam beberapa zona, yaitu:

  1. Lingkaran pusat, terdapat pusat kota atau CBD
  2. Sektor kedua terdapat kawasan perdagangan dan industry
  3. Sektor ketiga terdapat kawasan tempat tinggal kelas rendah
  4. Sektor keempat terdapat kawasan tempat tinggal kelas menengah
  5. Sektor kelima terdapat kawasan ternpat tinggal kelas atas.
  6. Sumber : https://www.kuliahbahasainggris.com/