Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia Saat ini

 Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia Saat ini

Konsep pendidikan karakter saat ini seakan-akan menjadi hal yang baru. Padahal jika kita memahami isi dari Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003, di sana dijelaskan tentang definisi sebuah pendidikan. Dalam rumusan definisi tersebut, secara jelas tersurat tentang adanya konsep penanaman pendidikan karakter.

Dalam UU nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Jika dipahami lebih jauh, dalam UU ini sudah mencakup pendidikan karekter. Dalam kalimat terakhir dari defenisi pendidikan dalam UU tentang Sisdiknas ini, yaitu memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selain bagian dari defenisi pendidikan di Indonesia, bagian kalimat tersebut juga menggambarkan tujuan pendidikan yang mencakup tiga dimensi.Yaitu dimensi ketuhanan, pribadi dan sosial.Artinya, pendidikan bukan diarahkan pada pendidikan yang sekuler, bukan pada pendidikan individualistik, dan bukan pula pada pendidikan sosialistik.Tapi dari defenisi pendidikan ini, pendidikan yang diarahkan di Indonesia itu adalah pendidikan mencari keseimbangan antara ketuhanan, individu dan sosial.

Selain tergambar jelas dalam Undang-undang Sisdiknas, konsep pendidikan karakter juga dirumuskan dalam Sarasehan Nasional Pendidikan Budaya dan Karakter yang dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 14 Januari 2010. Hasil pertemuan tersebut merumuskan hal-hal sebagai berikut:[14]

  1. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh
  2. Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh.
  3. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua.
  4. Dalam upaya merevitalisasi pendidikan budaya dan karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.

Kementrian pendidikan Nasional juga telah menyatakan ada Sembilan pilar pendidikan karakter. Kesembilan pilar tersebut meliputi:

1)        Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya

2)        Kemandirian dan tanggung jawab

3)        Kejujuran/amanah dan diplomatis

4)        Hormat dan santun

5)        Dermawan, suka tolong menolong dan gotong royong/kerjasa sama

6)        Percaya diri dan kerja keras

7)        Kepemimpinan dan keadilan

8)        Baik dan rendah hati

9)        Toleransi, kedamaian, dan kesatuan

Untuk pelaksanaan pendidikan karakter, para ahli pendidikan Indonesia umumnya sudah bersepakat bahwa pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak usia anak-anak (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Prof Muchlas Samani mengatakan bahwa menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Oleh karena itu sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dalam lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan awal bagi pertumbuhan anak.

sumber :