Konsep Keadilan Distribusi Menurut Ekonomi Islam.

 Konsep Keadilan Distribusi Menurut Ekonomi Islam.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa instrumen ekonomi yang diatur dalam ekonomi Islam bertujuan untuk memberi keadilan umat secara umum dan kemaslahatan. Jika dibanding dengan sistem ekonomi kapitalis atau sosialis ekonomi Islam lebih mudah mewujudkan tujuan ekonomi bagi masyarakat ekonom-nya. Terlebih dalam Islam dikenal konsep hakikat kepemilikan “pada dasarnya merupakan milik Allah, manusia sebagai pemegang amanah dalam penggunaanya”. Manusia sebagai pemegang amanah, maka ia memiliki kewajiban untuk menjaga amanah dan menggunakan sesutu yang diamanahkan kepada perintah dan kemaslahatan menurut hukum Islam.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

Artinya: Kepunyaan-nya-lah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, dan semua yang ada di anatara keduanya. (QS. Thohah. 6)

Dalam banyak ayat Qur’an, Allah memerintahkan manusia untuk berbuat adil. Dalam Islam adil didefinisikan sebagai “tidak mendzolimi dan tidak didzolimi” implikasi ekonomi dari nilai ini adalah bahwa pelaku ekonomi tidak diperbolehkan untuk mengejar kepentingan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam. Tanpa keadilan, manusia akan berkelompok-kelompok dalam berbagai golongan. Golongan satu akan mendzolimi golongan yang lain, sehingga terjadi eksploitasi manusia atas manusia. Masing-masing berusaha mendapatkan hasil yang lebih besar dari pada usaha yang dikeluarkannya karena kekuasannya.[9]

Dalam ekonomi kapitalis bahwa kemiskinan dapat diselesaikan dengan cara menaikan tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan nasional (national income) adalah teori yang tidak dapat dibenarkan, dan bahkan kemiskinan menjadi salah satu produk dari sistem ekonomi kapitalistik yang melahirkan pola distribusi kekayaan secara tidak adil. Fakta empiris menunjukan bahwa bukan karena tidak ada makanan yang membuat rakyat menderita kelaparan, melainkan buruknya distribusi makanan. Ketidak adilan tersebut juga tergambar dalam pemanfaatan kemajuan teknik yang dicapai oleh ilmu pengetahuan hanya bisa dinikmati oleh masyarakat yang relatif kaya yang pendepatannya melebihi batas pendapatan untuk hidup sehari-hari, sedangkan mereka yang hidup sekedar cukup untuk makan sehari-hari, terpaksa harus menderita kemiskinan abadi.[10]

Dengan demikian, ekonomi  hanya difokuskan pada penyedian alat untuk memuaskan kebutuhan masyarakat secara makro dengan cara menaikan tingkat produksi dan meningkatkan pendapatan nasional  (nasional income), sebab dengan banyaknya pendapatan nasional, maka seketika itu terjadilah pendistribusian pendapatan dengan cara memberikan kebebasan  memiliki dan kebebasan berusaha bagi semua individu masyarakat, sehingga setiap individu dibiarkan bebas memperoleh kekayaan sejumlah yang dia mampu sesuai dengan faktor –faktor produksi yang dimilikinya. Asas distribusi yang diharapkan oleh sistem ekonomi pasar (kapitalsi) ini pada akhiranya berdampak pada realita bahwa yang menjadi penguasa sebenarnya adalah para kapitalis (pemilik modal dan konglomerat). Oleh karena itu, hal yang wajar, jika kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah selalu berpihak kepada para pemilik modal atau konglomerat dan selalu mengorbankan kepentingan rakyat, sehingga terjadilah ketimpangan (ketidak adilan) pendistribusian pendapatan dan kekayaan.[11]


  1. Penutup.

Distribusi merupakan upaya yang dilakukan untuk menyalurkan barang yang diproduksi oleh produsen sehingga sampai pada konsumen yang membutuhkan. Adanya distribusi merupakan kelanjutan dari upaya produksi oleh produsen.

Dalam hal distribusi, Islam mememiliki konsep kemaslahatan dan keadilan yang berbeda dengan sistem kapitalis yang hanya mendahulukan orang-orang kaya dalam pendistribusian. Dalam ekonomi kapitalis orang kaya dianggap orang yang mampu membayar harga barang yang didistribusikan, sementara orang yang tidak punya ditinggalkan karena tidak mampu membayar mahal. Jelas dalam hal ini tidak ada keadilan distribusi dan kemaslahatan bagi banyak orang.

Maka harus ada intervensi pemerintah untuk mengatur dan memberikan instrumen distribusi yang adil, sehingga tujuan ekonomi sebagai usaha dan pemenuhan kebutuhan tercapai. Dalam Islam tercapainya sebuah tujuan ekonomi dan distribusi tentunya tidak hanya berpangkal pada aturan pemerintah melainkan juga manusia ekonominya juga harus memiliki prinsip tidak mendzolimi dan tidak terdzolimi. Adanya prinsip tidak didzolimi dan mendzolimi, maka peluang untuk mencapai tujuan ekonomi akan mudah terwujud.

 

Sumber :

https://icanhasmotivation.com/sony-music-jepang-kenalkan-teknologi-interaktif-di-afa-jakarta/