Kelebihan Media Sosial

Kelebihan Media Sosial

Kelebihan Media Sosial

Kelebihan Media Sosial
Kelebihan Media Sosial

 Studi Kasus Pilgub DKI Jakarta 2017 dan Keunggulan Strategi Propaganda Politik Melalui Media Sosial Pasangan Anies-Sandi Mencapai Kemenangan

Tahun 2017, menjadi salah satu pusat perhatian masyarakat umum terkait dengan agenda Pemilihan Gubernur untuk menduduki kursi kepemimpinan periode 2017-2022 di wilayah DKI Jakarta sebagai Ibu kota sekaligus kota yang selalu menjadi sorotan berbagai pihak dan kalangan masayarakat, hal ini tidak terkecuali.

Dalam perjalananya Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) atau Pilgub (Pemilihan Gubernur) disebut juga yang dilakukan pda tahun 2017 dilakukan selama du putaran.Sebagaimana yang ditentukan dalam UU No. 29 Tahun 2007, dalam pemilihan ini juga dilakukan dengan dua putaran seperti yang sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2012, sebab belum ada pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 50%. Dimana pada putaran kedua dapat dilakukan perbaikan atas berbagai persoalan yang muncul di putaran pertama seperti akurasi DPT, kampanye, masa tenang, pencoblosan, dan penghitungan serta rekapitulasi suara (Pahlevi, 2012).

Pada Putaran pertama, pihak KPUD Jakarta mengumumkan secara resmi hasil pemilihan gubernur (Pilgub) DKI yang dilaksanakan 15 Februari 2017 atas tiga pasangan calon sebagai peserta. Hasil dari proses rekapitulasi itu yakni, Pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni mendapatkan suara 937.950 dengan presentasi 17,02 %, pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat memperoleh 2.364577 dengan presentase 42,99 %, sedangkan pasangan nomor urut 3 Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahudin Uno memperoleh 2.197.33 dengan presentase 39,95 % (Fardiansyah, 2017).

Selanjutnya, KPU DKI Jakarta menetapkan pasangan cagub-cawagub yang bersaing di kontestasi Pilkada DKI putaran kedua, yaitu pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)—Djarot Saiful Hidayat dan pasangan Anies Rasyid Baswedan—Sandiaga Salahudin Uno dinyatakan menjadi calon pada putaran kedua, sesuai dengan yang tertuang dalam surat keputusan KPU DKI Jakarta nomor 48/KPTS/KPU Prov 010/2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017, dengan menetapkan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang memperoleh suara terbanyak pertama pada putaran pertama untuk mengikuti pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada putaran selanjutnya (Ramdhani, 2017).

Sementara itu, pada Putaran Kedua, dengan dua pasangan yang bersaing, ditetapkan bahwa pasangan Anies-Sandi unggul dengan perolehan suara 57,95 persen, dengan partai pengusung Gerindra dan PKS, meraih 3.240.057 suara.Sedangkan pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat mendapatkan 42,05 persen suara, atau sebanyak 2.351.141 dengan PDIP, Golkar, Hanura, dan NasDem sebagai partai pengusungnya (Alief, 2017).

Berdasarkan hasil kedua putaran yang berlangsung, hal ini dapat dilihat dari segi jumlah akhir untuk kedua pasangan berbanding terbalik, dimana Ahok-Djarot (42,99%) yang sebelumnya lebih unggul dibandingkan Anies-Sandi (39,95%) di putaran pertama, berbalik posisi dengan keunggulan Anies-Sandi (57,95%) dibanding Ahok-Djarot (42,05%). Dari perbandingan angka dapat dilihat bahwa pemilih pasangan  Ahok-Djarot cenderung menurun (dari 42,99% menjadi 42,05%). Dari angka ini dapat diketahui bahwa ada sebagaian kecil (atau mungkin besar) pendukung Ahok-Djarot pada pemilihan putaran kedua telah berpaling dan memutuskan untuk mendukung pihak lawan (Anies-Sandi), meskipun ada kemungkinan bahwa ada tambahan suara dari yang warga sebelumnya mendukung pasangan AHY-Sylviana, tidak dapat dipungkiri menurunnya jumlah suara untuk Ahok-Djarot, membuktikan bahwa ada beberapa pihak yang memlih untuk memindahkan dukungannya, sehingga menyebabkan kemenagan untuk pihak Anies-Sandi.

Hal ini kemungkinan karena adanya propaganda politik yang terlibat didalamnya. Dimanna melalui kampanye, sebagai jalur komunikasi untuk mempengaruhi pemilih, telah berhasil membuat pemilih berubah pikiran, sehingga memberikan suaranya untuk pelaku propoganda tersebut (kubu Anies-Sandi). Salah satu bentuk propaganda yang dilakukan oleh pasanagan Anies-Sandi adalah dengan melalui media sosial, dimana seiring dengan perkembangnya zaman, teknologi dan informasi memungkinkan setiap orang dapat memperoleh informasi. Bahkan jika dulu banyak pemilih yang kekurangan informasi mengenai profil pasangan calon pemilu, saat ini mereka bisa mencari informai yang tersebar di internet dengan mudah dan cepat dan mampu mempertimbangkan sendiri keputusan saat pemilihan umum dilaksanakan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang dilaksanakan pada tahun 2017, meskipun demikian sejak awal tahun 2016, sudah terlihat bagaimana antusiasme masyarakat menyambut Pilgub tersebut. Di dunia maya, terutama di media sosial, Pemilihan Gubernur DKI Jakarta berhasil menarik perhatian, tidak hanya bagi warga DKI Jakarta, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara umum. Perhatian dari masyarakat dunia maya (netizen) ditandai dengan banyaknya pesan, baik berupa status ataupun tanggapan terhadap para calon gubernur dan proses pemilihannya (Kurniasih, 2016)n yang disampaikan melalui akun-akun pribadi media sosial merekam yang secara tidak langsung ikut meramaikan proses kampanya yang tengah berlangsung, khusunya didunia maya.

Sebelumnya di sebutkan bahwa dalam dua putaran yang dilakukan dalam pemilihan, pasangan Anies-Sandi keluar sebagai pemenang dan (sekarang) menjabat untuk memimpin DKI Jakarta periode 2017-2022, meskipun pada akhirnya Sandiaga Uno memutuskan untuk meninggalkan jabatannya yang baru seumur jangung sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, dan memilih untuk maju bersama Prawowo Subianto di detik terkahir masa pendaftaran pasangan Capres-Cawapres untuk Pemilihan Presiden 2019 (Hakim, 2018). Meskipun demikian, strategi yang dilakukan pasangan Anies-Sandi dan Tim Pemenangnya di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta telah berhasil membuktikan bahwa media sosial, merupakan cara yang jitu untuk keberhasilan tersebut.

Sebelumnya, ada tiga trategi utama yan dilakukan oleh psangan ini, diantarannya yaitu serangan darat, udara dan operasi politik:

  1. Serangan darat, dengan menyediakan relawan tempat pemungutan suara. Tim teritori akan menyediakan koordinator untuk relawan dan setiap gang akan disediakan regu penggerak pemilih. Relawan ini, bertugas menjadi saksi dan mendata yang berpotensi untuk swing voters agar kemudian dapat diajak untuk berkenalan dengan Anies dan Sandi.
  2. Serangan udara, akan dimulai dengan tim untuk media konvensional, media sosial, dan tim data saksi pemilih.
  3. Operasi politik dilakukan dnegan kerjsama secara politik

Dalam hal ini, akan lebih difokuskan pada strategi serangan udara, terutama dalam media sosial, karena ini merupakan strategi yang paling berpengaruh. Berikut merupakan penjelasan strategi yang dilakukan oleh Anies-Sandi bersama Tim Pemenangnya melalui propaganda politik media sosial untuk meraih kemenangan:

Sumber : http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/1602/66105