JENIS-JENIS TAQLID 

JENIS-JENIS TAQLID 

JENIS-JENIS TAQLID

 

JENIS-JENIS TAQLID 
JENIS-JENIS TAQLID

Taqlid ada dua jenis : umum dan khusus.

1. Taqlid yang umum

seseorang berpegang pada suatu madzhab tertentu
yang ia mengambil rukhshoh-rukhshohnya1
dan azimah-azimahnya2
dalam semua urusan agamanya.

Dan para ‘ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini. Diantara
mereka ada yang berpendapat wajibnya hal tersebut dikarenakan
(menurut mereka, pent) orang-orang muta-akhirin memiliki udzur (tidak

Rukhshoh

(ﺔﺼﺧﺮﻟﺍ) : (ﹰ ﺎﻌﺠﻄﻀﻣ ﻭﺃ ﹰ ﺍﺪﻋﺎﻗ ﺓﻼﺼﻟﺎﻛ ﺭﺬﻌﻟﺍ ﺔﻟﺎﺣ ﺹﻮﺼﳋ ﻲﻋﺮﺷ ﻞﻴﻟﺪﺑ ﺖﺒﺛ ﺎﻣ) “Apa-apa yang
tetap dengan dalil syar’i yang khusus pada kondisi adanya udzur; seperti sholat sambil
duduk atau berbaring”.

Azimah

(ﺔﳝﺰﻌﻟﺍ): ( ﺖﺒﺛ ﺎﻣ ﹰ ﺎﻤﺋﺎﻗ ﺓﻼﺼﻟﺎﻛ ﺭﺬﻌﻟﺍ ﺔﻟﺎﺣ ﲑﻐﻟ ﹰ ﺎﻋﺮﺷ ) “Apa-apa yang tetap/berlaku secara
syar’i, bukan dalam kondisi adanya udzur; seperti sholat sambil berdiri.

Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )

mampu, pent) untuk ber-ijtihad; diantara mereka ada yang berpendapat
haramnya hal tersebut karena apa yang ada padanya dari keharusan yang
mutlak dalam mengikuti orang selain Nabi sholallohu alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Sesungguhnya dalam
pendapat yang mewajibkan taat kepada selain Nabi dalam segala
perintah dan larangannya adalah menyelisihi ijma’ dan tentang
kebolehannya masih dipertanyakan.”

Beliau juga berkata : “Barangsiapa memegang suatu madzhab
tertentu, lalu ia melaksanakan yang menyelisihi madzhabnya tanpa taqlid
kepada ‘ulama lain yang memberinya fatwa dan tanpa istidlal dengan
dalil yang menyelisihinya, dan tanpa udzur syar’i yang menunjukkan
halalnya perbuatan yang dilakukannya, maka ia adalah orang yang
mengikuti hawa nafsunya, pelaku keharoman tanpa ada udzur syar’i, dan
ini adalah mungkar. Adapun jika menjadi jelas baginya apa-apa yang
mengharuskan adanya tarjih pendapat yang satu atas yang lainnya, baik
dengan dalil-dalil yang terperinci jika ia tahu dan memahaminya, atau ia
melihat salah seorang ‘ulama yang berpendapat adalah lebih ‘aalim (tahu)
tentang masalah tersebut daripada ‘ulama yang lain, yang mana ‘ulama
tersebut lebih bertaqwa kepada Alloh terhadap apa-apa yang
dikatakannya, lalu orang itu rujuk dari satu pendapat ke pendapat lain
yang seperti ini maka ini boleh, bahkan wajib dan al-Imam Ahmad telah
menegaskan akan hal tersebut.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

2. Taqlid yang khusus

seseorang mengambil pendapat tertentu dalam
kasus tertentu, maka ini boleh jika ia lemah/tidak mampu untuk
mengetahui yang benar melalui ijtihad, baik ia lemah secara hakiki atau
ia mampu tapi dengan kesulitan yang sangat. Ushul Fiqih ( ﻝﻮﺻﺃ ﻪﻘﻔﻟﺍ )