Gaya Tulisan Al-Qur’an di Masa Sesudah Utsman bin Affan

Gaya Tulisan Al-Qur’an di Masa Sesudah Utsman bin Affan

Gaya Tulisan Al-Qur’an di Masa Sesudah Utsman bin Affan

 

Gaya Tulisan Al-Qur’an di Masa Sesudah Utsman bin Affan
Gaya Tulisan Al-Qur’an di Masa Sesudah Utsman bin Affan

1. Gaya Kufi

Tak ada keraguan bahwa al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW., sahabat, dan tabi’in ditulis dalam gaya Kufi. Rifal Ka’bah menyebut gaya ini merupakan variasi gaya Hiran (khas kota Herat/Hirah), yang datang ke Hijaz dari Irak pada masa sekitar awal ketika menteri dan para sahabat Nabi belajar membaca dan menulis gaya tersebut kepada Rabi, seorang ulama terkemuka pada masa itu. Menurut Issa J. Boullata, gaya tulisan kufi berasal dari tulisan Nabataen dan jenis huruf yang ada di Syria sebelum hijriah karena, baik dalam tulisan kufi maupun Suriah, huruf alif tidak akan ditulis bila muncul dalam pertengahan kata. Sebagai contoh kata kita>b, rahma>n, dan isma>i>l ditulis tanpa alif antara ta dan ba, min, dan nun serta mim dan ‘ain.

Namun demikian, gaya tulisan selain kufi ada juga di Hijaz pada masa Nabi, yakni tulisan nabataen yang darinya nanti berkembang gaya tulisan naskhi. Tulisan nabataen memang lebih mudah, lebih biasa digunakan kecuali oleh orang-orang Arabia. Malik asy-Syuara bahkan mengamati dalam Sabshinasi bahwa yang dapat dilihat dari kumpulan hadis-hadis adalah bahwa gaya tulisan Islam sejak semula adalah tulisan nabataen yang disebut an-Naskhi dan al-Miris. Tulisan nabataen telah datang ke Hijaz dari Huran (kota Suriah kuno), tetapi pada praktiknya al-Qur’an biasanya ditulis dengan gaya kufi untuk beberapa abad lamanya. Beberapa orang bahkan mengkalim bahwa adanya tulisan al-Qur’an dalam gaya selain kufi adalah tidak tepat karena al-Qur’an sejak semula ditulis dalam gaya tersebut. Dan mereka menganggap setiap perubahan bentuk tulisan tersebut adalah bid’ah.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/doa-sebelum-belajar/

2. Gaya Naskhi

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan seni dalam Islam, khususnya pada masa Abbasiyah, karakter tulisan juga mengalami perkembangan. Serangkaian untuk seni kaligrafi. Dan para pakar pun muncul dalam bidang seni kaligrafi. Tulisan gaya naskhi lantas mendapat perhatian serius, pasalnya gaya tulisan naskhi lebih sederhana ketimbang gaya kufi sehingga mendapat perhatian, baik dari para ahli kaligrafi maupun masyarakat kebanyakan. Sekelompok ahli kaligrafi bahkan member perhatian khusus pada perbaikan tulisan gaya naskhi, misalnya Muhammad bin Ali bin Husain bin Muqlah (272-328 H). Ibnu Muqlah diyakini sebagai penemu tulisan gaya naskhi.

Pada masa ini, al-Qur’an pun mulai dituliskan dalam gaya Naskhi ini masih bisa dijumpai di Astanah-ye Quds-e Radhawi dan al-Qur’an yang di pelihara di Dar al-Kutub kairo, di perpustakaan Jamaat al-Qarwiyyin di Fas, dan di perpustakaan museum Topkapi Istanbul.