Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit VSD

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit VSD

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit VSD

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit VSD

Penyakit terutama berkembang di daerah yang basah. Bukan hanya ditentukan curah hujan, tetapi juga pembagiannya. Jika jumlah malam basah lebih dari 50% dalam satu bulan, dapat diperkirakan bahwa tiga sampai lima bulan kemudian penyakit akan tampak meningkat (Prior, 1977). Hal ini disebabkan karena untuk pembentukan basidiospora tubuh buah jamur harus basah diwaktu malam.
Adanya hujan malam, yang diikuti dengan embun, akan membantu penyebaran penyakit.
Spora jamur yang mempunyai dinding tipis itu mudah mati karena sinar ultra violet pada siang hari.

Penyebaran penyakit

0. theobromae membentuk basidiospora yang hanya dilepaskan pada waktu malam, dan disebarkan oleh angin. Oleh karena itu jamur tidak dapat tersebar jauh, karena kelembapan tinggi pada umumnya hanya terjadi bila udara tenang.
Chan dan Wasir (1976) memperkirakan bahwa spora tidak akan tersebar lebih dari 200 m.
Infeksi hanya dapat terjadi pada daun muda yang belum mengeras. Spora berkecambah dan jamur mengadakan penetrasi melalui epidermis, mesofil, ke dalam tulang daun.
Penyebaran penyakit melalui bahan tanaman
Mengingat jamur penyebab penyakit ini terdapat dalam berkas pembuluh, diperkirakan bahwa jamur mudah terbawa dalam bahan tanaman, seperti setek dan mata okulasi. Namun bukti mengenai hal ini belum terdapat.

Baca juga: Kandang Ayam Petelur

Chan dan Wazir,(1976) mengatakan bahwa setek yang diambil dari ranting sakit ternyata tidak dapat tumbuh
Meskipun dapat masuk ke plasenta, namun tidak terdapat bukti bahwa jamur menginfeksi biji. Biji-biji yang diambil dari pohon yang sakit dapat tumbuh seperti biasa dan tidak berkembang menjadi tanaman sakit (Chan dan Wazir,1976).

Asal penyebab penyakit

VSD tidak terdapat di daerah asal kakao (Amerika Tropika) dan hanya terdapat di Asia Tenggara dan Kepulauan Melanesia.
Disimpulkan 0. theobromae berasal dari tumbuhan pribumi dalam flora Asia Tenggara, dan dari sini jamur menyesuaikan diri pada kakao (eksotik).
Sampai sekarang belum diketahui tanaman lain/tanaman pribumi yang dapat menjadi inang bagi jamur ini.

Ketahanan tanaman

Dari pengamatan di Indonesia diketahui VSD lebih banyak terdapat pada kakao lindak (bulk, Criollo), dan kurang terdapat pada kakao mulia (edel, Trinitario).
Klon DR 1 lebih tahan ketimbang DR 2 dan DR 38.Kelihatan type Amelonado lebih rentan dari pada kakao Upper Amazon dan Trinitario (Keane dan Prior, 1992).

Intensitas serangan

Intensitas serangan ditentukan berdasarkan persentase ranting sakit dan kerusakan pada xilem.
Ringan : Jumlah ranting sakit <10 persen dan jamur menyerang hanya sampai pada cabang tersier
Sedang : Jumlah ranting sakit 10-30 persen dan jamur menyerang sampai pada cabang sekunder.
Berat : Jumlah ranting sakit >30 persen dan jamur menyerang sampai pada cabang primer atau batang pokok.