Calon Guru Seni Rupa dari 14 Kampus di Indonesia Resahkan Masa Depan

Calon Guru Seni Rupa dari 14 Kampus di Indonesia Resahkan Masa Depan

Calon Guru Seni Rupa dari 14 Kampus di Indonesia Resahkan Masa Depan

Calon Guru Seni Rupa dari 14 Kampus di Indonesia Resahkan Masa Depan
Calon Guru Seni Rupa dari 14 Kampus di Indonesia Resahkan Masa Depan

Ratusan calon guru seni rupa dan kriya dari 14 kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta

(DIY) menggelar event bertajuk,”Dendang Calon Guru,” di Taman Budaya Yogyakarta mulai Jum’at (17/1) malam hingga Minggu (19/1).
Ke-14 kampus tersebut adalah UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), UST (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa), ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja, ISI Surakarta, UNS (Universitas Sebelas Maret), UNNES (Universitas Negeri Semarang), Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, UB (Universitas Brawijaya) Malang, Undiksa (Universitas Pendidikan Ganesha) Bali, UM (Universitas Merdeka) Malang, UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung, UNP (Universitas Negeri Padang), IKJ (Institute Kesenian Jakarta), dan Unesa (Universitas Negeri Surabaya).
Niko Wiranata, ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa dan Kriya UNY mengatakan bahwa acara ini dibuat untuk melepaskan ketakutan mereka paska lulus kuliah.
“Guru seni rupa itu kayak dipandang sebelah mata, ketimbang guru-guru lain seperti matematika, sains, bahasa Inggris. Guru seni rupa itu selalu dikesampingkan. Acara ini dibikin biar nggak spaneng (tegang atau stres),” ujar Niko sebelum pembukaan pameran.

Kesadaran masyarakat tentang pentingnya seni bagi anak, menurut Niko,

masih sangat kurang. Seni dipandang bukan bidang yang penting dan perlu dipelajari. Lain dengan pelajaran-pelajaran eksak yang selalu dianggap penting dan menjadi standar kecerdasan setiap siswa.
“Padahal seni itu sangat penting terutama untuk mengolah perasaan anak-anak. Apalagi sekarang eranya industri kreatif, Pak Nadiem Makarim kan harusnya faham benar,” lanjutnya.
IMG_20200117_183548_HDR.jpg

Niko Wiranata, ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa dan Kriya UNY. Foto : Widi Erha

Kurangnya perhatian terhadap seni di dunia pendidikan juga terlihat dari minimnya sarana belajar seni di sekolah. Sekarang sangat sedikit sekolah-sekolah yang punya sanggar kesenian yang bisa digunakan untuk pembelajaran intra maupun ekstrakuriuler.
“Di Jogja saja yang nuansa budayanya ketat masih kurang perhatian, apa lagi di daerah lain?” kata Niko menyayangkan.
Mahasiswa pendidikan seni rupa dan kriya UNY, Gumirlang Mukti Bagasa, yang merupakan ketua panitia penyelenggaraan DCG mengatakan saat ini kegiatan-kegiatan seni masih kerap mendapat stigma negatif, termasuk di dunia pendidikan.

 

Sumber :

https://www.belajarbahasainggrisku.id/