Alasan Kondisinya Tak Layak, LIPI Musnahkan 30 Ribuan Tesis dan Disertasi

Alasan Kondisinya Tak Layak, LIPI Musnahkan 30 Ribuan Tesis dan Disertasi

Alasan Kondisinya Tak Layak, LIPI Musnahkan 30 Ribuan Tesis dan Disertasi

Alasan Kondisinya Tak Layak, LIPI Musnahkan 30 Ribuan Tesis dan Disertasi
Alasan Kondisinya Tak Layak, LIPI Musnahkan 30 Ribuan Tesis dan Disertasi

Puluhan ribu koleksi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berupa tesis dan disertasi dimusnahkan dengan alasan kondisinya sudah tidak layak lagi dan guna menghemat biaya karena akan dilakukan upaya digitalisasi karya-karya ilmiah tersebut.
JAKARTA (VOA) —

Sejarawan sekaligus peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Asvi Warman Adam menyebut ada 30 ribuan tesis dan disertasi yang disimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI telah dimusnahkan. Menurutnya, hal tersebut merupakan langkah lanjutan dari reorganisasi yang dilakukan Kepala LIPI Laksana Handoko. Salah satunya yaitu upaya digitalisasi karya yang bakal diterima PDII LIPI.

Menurut Asvi, pemusnahan karya tersebut semestinya tidak diperlukan, meskipun digitalisasi akan dilakukan.

“Dokumentasi yang lama, buku, disertasi dan lain-lain itu kan tidak seharusnya dihilangkan. Itu yang akan datang baru nanti diutamakan menerima yang sifatnya digital atau dilakukan digitalisasi. Tetapi itu tidak berarti membuang,” jelas Asvi kepada VOA, Senin (11/3).
Tempat penyimpanan tesis dan disertasi yang kini sudah kosong. (Foto: dokumentasi peneliti LIPI)
Tempat penyimpanan tesis dan disertasi yang kini sudah kosong. (Foto: dokumentasi peneliti LIPI)

Asvi Warman menambahkan koleksi tesis dan disertasi tersebut berasal dari berbagai kampus di Indonesia. Di samping itu, sebagian koleksi juga berasal dari luar negeri dengan cara membeli dengan harga 65 dolar Amerika Serikat per karya.

“Saya meminta Kepala LIPI mengembalikan disertasi tersebut ke rak semula. Karena kami memiliki foto-foto saat disertasi tersebut saat masih ada dan sekarang raknya sudah kosong,” imbuhnya.

Masalah lain, kata Asvi yaitu Pelaksana tugas kepala PDII LIPI yang ditunjuk Kepala LIPI bukanlah seorang pustakawan seperti pendahulunya. Melainkan orang yang berlatar belakang teknologi informasi (IT).

Unduh

Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Syamsuddin Haris berharap pemerintahan Joko Widodo

mengganti Kepala LIPI Laksana Handoko. Ia beralasan kebijakan-kebijakan yang diambil Handoko tidak memiliki visi, serta tidak direncanakan dengan matang dan target yang jelas.

“Semoga pemerintah Jokowi segera mengakhiri kisruh di LIPI sebelum lembaga riset terbesar dan bersifat multidisiplin ini hancur lebur,” tutur Syamsuddin Haris.

PDII: Kondisi Koleksi Sudah Tidak Layak

Menjawab itu, Pelaksana tugas Kepala PDII LIPI Hendro Subagyo

mengatakan tesis dan disertasi yang dihapus atau dimusnahkan sudah tidak layak kondisinya. Namun, ia tidak mengetahui jumlah pasti dan proses pemusnahan koleksi tesis dan disertasi tersebut. Termasuk, benar tidaknya koleksi tersebut dijual ke loak atau tempat penjualan barang bekas.

Hanya, ia memastikan karya-karya tersebut masih tersimpan di perguruan tinggi asal sebelum kebijakan tersebut diambil. Hendro juga memastikan proses pemusnahan tersebut sudah dilakukan sesuai prosedur.

 

Sumber :

https://www.behance.net/ojelhtcman4fb2