7 Kunci Surga

7 Kunci Surga

7 Kunci Surga

7 Kunci Surga
7 Kunci Surga

Di riwayatkan dalam sebuah atsar ( Riwayat) bhawa kunci surga adalah la ilaha illallah, akan tetapi apakah setiap orang yang mengucapkannya berhak dibukakan pintu surga untuknya???
Seseorang bertanya kepada Wahb bin Munabbih rahimahullah: “Bukankah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (La illaha illallah) itu kunci pintu surga? Beliau menjawab: “ Ya, tetapi setiap kunci mempunyai gerigi, jika anada membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga dibukakan untukmu, tetapi jika kunci anda tak bergerigi, maka tidak akan dibukakan untukmu”

Banyak hadits Rasulullah SAW yang menerangkan tentang gerigi kunci ini, seperti sabda Rasulullah: “Siapa saja yang mengucapkan La illaha ilallah dengan ikhlas, dengan hati yang yakin. Dia benar-benar mengucapkannya dari lubuk hatinya” dan ungkapan lain, dimana hadits-hadits tersebut, mengaitkan masuknya surga dengan mengetahui makna La illaha illallah, tetap teguh kepadanya sampai ajal datang menjempunya, tunduk dan patuh terhadap maksudnya.
Berdasarkan dalil-dalil, para ulama mengambil kesimpulan tentang syarat-syarat yang mesti di penuhi, sehingga kalimat la illaha illallah menjadi kunci pembuka pintu surga, dan berguna bagi orang yang mengucapkannya, adapun syarat-syarat itu adalah Gerigi kunci tersebut, di antara nya:

1. Ilmu (Pengetahuan)

setiap kalimat memiliki makna, maka wajib mengetahi makna la illaha illallah dengan pengetahuan yang bertentangan dengan sifat ketidaktahuan, yaitu: menafikan/meniadakan sifat ketuhanan dari selain Allah, lalu menetapkannya untuk Allah Ta’alla semata, maksudnya tidak ada yang berhaka di sembah/di berikan ibadah kecuali Allah.
Allah berfirman: “ kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya” QS. AZ-Zukhruf:86
Rasulullah juga bersabda “Siapa saja meninggal dunia, sementara dia mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah, pasti masuk surga” HR.Muslim

2. Yakin

yaitu benar-benar menyakini akan maksudnya, karena kalimat ini sama sekali tidak menerima keraguan, prasangka, dan kebimbangan. Akan tetapi wajib bertopang kepada keyakinan yang pasti dan kuat. Allah berfirman, menyebutkan sifat-sifat orang mukmin: “Seungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar” QS.Al-Hujurat:15

Tidak cukup hanya sekedar mengucapkannya saja, akan tetapi harus dengan keyakinan hati. Jika tidak demikian maka itu merupakan nifaq murni. Rasulullah bersabda: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku adalah utusan Allah, tidak seorang hamba pun bertemu dengan Allah dengan membawa dua kalimat syahadat ini tanpa ada keraguan di dalamnya, kecuali dia masuk surga” HR.Muslim

3. Menerima

apabila telah menyakini dan mengetahui, maka sepatutnya pengetahuan yang berkeyakinan ini memiliki pengaruh, yaitu: menerima setiap apa saja yang di tuntut oleh kalimat ini denga hati dan lidah. Jadi, siapa saja menolak panggilan tauhid, dan tidak menerimanya, maka dia itu kafir, baik penolakan itu di sebabkan oleh kesombongan, keras kepala, dan kedengkian. Allah berfirman tentang orang kafir yang menolak kalimat ini dengan sombong, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila di katakan kepada mereka: “La illaha illallah” (Tidak ada tuhan yang berhak di sembah selain Allah) mereka menyombongkan diri”

4. Tunduk dan Patuh sepenuhnya terhadap tauhid

Ini merupakan pembuktian dan bentuk pengalaman dari keimanan. Hal ini terwujud dengan mengamalkan apa yang telah Allah syari’atkan dan meninggalkan apa yang Dia larang, sebagaimana firman Allah: “Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan” QS.Luqman:22. Inilah yang dinamakan ketaatan yang sempurna.

5. Kejujuran dalam mengucapkannya

kejujuran yang menghapus kedustaan, karena siapa saja mengatakannya dengan lidahnya saja, sedangkan hatinya mendustai kalimat itu maka dia munafik. Dasarnya adalah firman Allah yang mencaci orang munafikin, “Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya” QS. Ali Imran:167

6. Kecintaan

seorang mukmin mencintai kalimat ini, dan senang mengamalkan sesuai dengan tuntutannya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkannya. Bukti kecintaan seorang hamba kepada Rabb-Nya yaitu mendahulukan kecintaan Allah, meskipun bertentangan dengan hawa nafsu nya, loyal terhadap orang yang cinta Allah dan Rasul-Nya, Memusui orang yang memusuhi-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, serta menuruti jejak langkahnya dan menerima petunjuknnya.

Baca Juga: Ayat Kursi

7. Ikhlas

tiada yang di inginkan dari ucapan kalimat ini kecuali Allah semata, Allah berfirman: “Padahal mereka tidak di suru, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” QS. Al-Bayyinah: 5. Rasulullah juga bersabda: “Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka bagi orang yang mengucapkan “La illaha illallah” karena mengharapkan dengan itu Allah semata”

Adapun simpanan surga yang di sebutkan oleh Rasulullah yaitu: “Maukah aku tunjukkan kepadamu simpanan dari simpanan-simpanan surga? “Aku (Abu Musa al-Asy’ari) menjawab, “Tentu wahai Rasulullah, Beliau bersabda, “La Haula Wa La Quwatta Illa Billah (Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah).